Archive for the ‘Kurnia JR’ Category

Lukisan Jeihan di Kolong Viaduk
February 14, 2016


Cerpen Kurnia J. R. (Jawa Pos, 14 Februari 2016)

Lukisan Jeihan di Kolong Viaduk ilustrasi Bagus

Lukisan Jeihan di Kolong Viaduk ilustrasi Bagus

INGATKAH engkau pada seorang anak yang menemui ajal di ujung belati tanpa alasan? Beritanya dimuat di koran, majalah, dan televisi. Aku berjumpa dengan dia siang itu di kolong viaduk. Kulihat matanya bolong dan kosong. Saat itu kota dirundung mendung dan selimut angin menebal akhir tahun.

Ia melangkah berlawanan arah dengan aku, acuh tak acuh. Aku tercekat karena tak ada apa pun di lubang mata itu. Ingat kau pada lukisan Jeihan? Nah, seperti itulah sosoknya. Aku terhenti dan meneguhkan kesadaran bahwa saat itu siang hari, meski nyaris gelap karena bayangan musim penghujan yang kelewat panjang tahun ini. (more…)

Advertisements

Berteman Angin di Ladang Kentang
January 31, 2016


Cerpen Kurnia JR (Kompas, 31 Januari 2016)

Berteman Angin di Ladang Kentang ilustrasi Maharani Mancanagara

Berteman Angin di Ladang Kentang ilustrasi Maharani Mancanagara

Kulihat malam pada hamparan ladang kentang Dataran Tinggi dan kudapati wajah sendiri yang sunyi, mengejar jawaban atas satu hal yang tak kunjung datang. Apakah yang patut kuberikan untuk mengisi waktumu? Sepotong kisah?

Ini cerita penangkal dingin malam yang mengekang tulang-belulang pada ujung kemarau Dataran Tinggi. Harus kuperjelas aku tidak menyimpan dendam apa pun di dalam kisah yang hendak kututurkan ini. Aku hanya minta pengertianmu untuk sepenuhnya percaya pada apa yang kuungkapkan. Seluruhnya. Jika engkau skeptis atau hanya setengah percaya, berhentilah membaca. (more…)

Cikapundung
June 9, 2013


Cerpen Kurnia JR (Kompas, 9 Juni 2013)

Cikapundung ilustrasi Isa Perkasa

DI atas jembatan kecil aku berdiri, setengah bersandar ke pagarnya yang rendah, diam memandang aliran lemah Cikapundung. Apa yang dia katakan? Tidak ada. Aku malah melihat sesobek hatiku melayang ke permukaannya. Cabikan yang meninggalkan luka sayatan merah dan segaris darah. Terapung merah di atas hitam.

Orang-orang lalu-lalang tanpa melirik sungai yang malas dan mesum. Dulu kukenal ia cantik memikat, meliuk-liuk genit bagai gadis remaja. Pada pagi hari ketika bola emas memanjat langit dengan cahaya pertama yang paling bening, ia memantulkan triliunan tembakan sinarnya sehingga jutaan berlian berpendaran di permukaannya.  (more…)

Hujan yang Indah
August 17, 2011


Cerpen Kurnia JR (Kompas, 14 Agustus 2011)

JIKA Anda orang yang menyukai hujan, datanglah ke kotaku. Di sini dapat Anda saksikan hujan yang indah bak lukisan.

Aku tidak bohong. Di sini hujan turun seperti gadis kecil yang pemalu, tetapi selalu riang. Kadang kala kubayangkan hujan mengetuk-ngetuk bumi dengan kaki-kaki gadis kecil yang menari kian kemari. Aspal, trotoar, dan pepohonan basah tapi ceria turut menari bersama. (more…)