Archive for the ‘Kiki Sulistyo’ Category

Rumah Sebelum Tangga
March 25, 2017


Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 25-26 Maret 2017)

Dunia Sebelum Tangga ilustrasi Munzir Fadly - Koran Tempo.png

Dunia Sebelum Tangga ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Sudah satu jam ia berada di kamar ini, membelakangi jendela yang terkuak dan tertahan oleh kait besi. Televisi 14 inci model lama yang tak diproduksi lagi bertengger di atas rak. Di sampingnya setumpuk buku-buku bersampul keras, beberapa di antaranya memperlihatkan juntaian pita pembatas berwarna merah yang keluar dari lipatan halaman. (more…)

Advertisements

Burung Sirin
October 30, 2016


Cerpen Kiki Sulistyo (Media Indonesia, 30 Oktober 2016)

burung-sirin-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Burung Sirin ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

BURUNG itu jatuh dari langit. Seperti ada yang menembak. Bulu-bulunya berlepasan di udara sebelum tubuhnya menimpa tanah. Bagaimana burung bisa jatuh sementara tak ada suara letupan?

Sirin berjalan ke arah burung yang jatuh itu. Tepat di jalan tanah yang menghubungkan sungai di dekat rumah dengan jalanan lebih besar yang mengarah ke jalan yang lebih besar lagi, Sirin melihat semak-semak mimosa. Diperhatikannya semak-semak itu. “Kalau kau ketemu mimosa berdaun empat, kau bakal mendapat keberuntungan,” Sirin ingat kata temannya, tapi ia tidak ingat nama temannya itu. (more…)

Pada Saat Itu Ada Kilat di Langit
June 4, 2016


Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 04-05 Juni 2016)

Pada Saat Itu Ada Kilat di Langit ilustrasi Munzir Fadly

Pada Saat Itu Ada Kilat di Langit ilustrasi Munzir Fadly

DIA memelukku.

Pada saat itu ada kilat di langit. Seekor cacing bersembunyi di bawah daun kering. Gorden di jendela kamar dihembus angin. Sudah dua belas jam aku tidak bertemu dengannya. Ada kabar seorang pengamen misterius sering datang ke perumahan-perumahan. Memetik alat musik yang tidak pernah dilihat sebelumnya. Konon, hanya orang-orang kesepian yang dapat mendengar suara alat musik itu.

Satu jam setelah aku berpisah dengannya, aku memasuki kedai kopi. Memesan kopi Toraja dan pisang krispi dengan sepiring kecil madu. Kedai itu jadi satu dengan hotel, dengan nama yang sama: Hotel Venus. Pada suatu malam aku bermimpi menginap di hotel itu. Bersama seorang perempuan yang tidak pernah kuketahui namanya. Perempuan itu membunuhku di kamar. Setelah mengikat kedua tangan dan kakiku serta menutup mataku. Aku telanjang, dan pada pagi harinya juru kebersihan hotel melihat mayatku. (more…)

Belfegor
July 14, 2013


Cerpen Kiki Sulistyo (Suara Merdeka, 14 Juli 2013)

Belfegor ilustrasi -

LIDAH Nenek seperti silet yang mengiris tepat di jantungku. Kata-katanya bagai cuka, memberi kadar perih yang berlebih. Aku tertunduk, menatap lantai tanah yang seumur hidupku tak pernah berubah. Dari luar rumah seberkas cahaya bulan menerobos pagar bambu, mendesakkan diri menjadi bilah-bilah tipis. Nenek meludah. Cairan merah jatuh di lantai. Cairan sirih yang dikunyah hingga semirip darah. Aku tetap tertunduk. Bersimpuh di dekat kakinya yang telanjang.  (more…)