Archive for the ‘Khrisna Pabichara’ Category

Sepatu
May 9, 2012


Cerpen Khrisna Pabichara (Jawa Pos, 6 Mei 2012)

[1]

MUSIM kemarau paling menyiksa bagiku. Bukan panas itu yang menyiksaku, bukan. Tapi, mimpi sepasang sepatu yang terus berkelebat di kepala di sepanjang jalan. Andai kata aku punya sepatu, telapak kakiku tidak akan melepuh atau membengkak. Sebenarnya aku sudah mencoba mencari uang, sebanyak mungkin, agar bisa beli sepatu. Sejak Kelas 3 SR, aku sering nguli nyeset. Itu kulakukan sepulang sekolah, di sela-sela jadwal rutin menggembala domba. Upah nguli nyeset terus kutabung demi dua mimpi besarku—sepatu dan sepeda. Namun, sering kali kuserahkan sebagian besar kepada ibuku dengan sepenuh-penuh kebahagiaan. Kebutuhan mengisi perut lebih mendesak ketimbang mimpi sederhanaku itu. Setiap menyerahkan hasil nguli nyeset, biasanya mata Ibu berkaca-kaca, seperti hendak mengatakan: “Tidak seharusnya kamu bekerja seperti ini, Nak!” atau mungkin “Terima kasih, Nak.” (more…)

Advertisements

Pakarena
March 21, 2010


Cerpen Khrisna Pabichara (Republika, 21 Maret 2010)

Pakarena ilustrasi Rendra

[Kepada Meilani Goenawan dan Belline Sucipto]

1

 

NEGERI kelahiranmu begitu sepi dan asing, bersungkup misteri dan teka-teki. Tak perlu kukisahkan padamu kenapa aku bisa berada di sini, di Wuhan, sebuah kota di Tionghoa, tempat leluhurmu dulu riuh beranak-pinak. Tapi jika kamu tetap memaksa, baiklah, ada satu alasan yang tak terbantahkan: Aku berusaha mencarimu. Namun, semuanya sia-sia. Wuhan kota dengan danau bak cermin ini, seolah menelan riwayatmu begitu saja. Sungguh, aku ingin tahu seperti apa kini rupamu. Masih bercahayakah mata sipitmu? Masih memukaukah sepasang dekik di pipimu? Masih hangatkah senyum cerahmu? (more…)

Arajang
January 31, 2010


Cerpen Khrisna Pabichara (Republika, 31 Januari 2010)

Arajang ilustrasi Rendra

[Kepada M Aan Mansyur dan Puang Matowa Saidi’]

1

Sudahkah kau memeluk dirimu hari ini?

TIDAK mudah menjadi lelaki. Begitu pun menjadi perempuan. Tapi, lebih tidak mudah lagi menjadi calabai––lelaki yang menyerupai perempuan. Di kampung kelahiranku, Malakaji––sebuah kampung di kaki Gunung Bawakaraeng––lelaki hanya butuh mahir berkuda, bela diri, bertani, atau berdagang. Menjadi perempuan lebih gampang lagi. Yang penting bisa masak, mencuci, serta mengasuh suami dan anak. Tapi, tidak begitu jika kamu calabai. Kamu akan digiring takdir ke negeri antara, merasakan pedihnya dicaci dan dilecehkan, serta berulang seolah sarapan pagi yang harus kamu santap setiap hari. (more…)