Archive for the ‘Ken Hanggara’ Category

Milana dan Sungai Purba
September 4, 2016


Cerpen Ken Hanggara (Kompas, 04 September 2016)

Milana dan Sungai Purba ilustrasi Putu Edy Asmara Putra

Milana dan Sungai Purba ilustrasi Putu Edy Asmara Putra

“Dulu, di depan kita ada sungai,” kataku. “Sungai besar dan nyata.” Telunjukku menuding ke timur, titik matahari berangkat, lalu jariku melayang dan mendekat pada kami, hingga melampaui wajah Milana dan bersambung ke arah benamnya hari.

Milana menoleh sejenak. Ia tutup mulut dengan dua tangan.

“Sungguh,” kataku lagi.

Ia menggeleng-geleng dan tersenyum. “Bukan. Bukan itu.”

Milana berdiri dan menarikku dari bangku taman. Kami menyisir garis panjang di depan bangku, terus ke barat hingga beberapa puluh meter. Garis itu—aku menyebutnya batas sungai purba yang hilang—memang ada dari dulu dan gadis ini tahu legendanya. Mestinya aku tak menjelaskan, karena toh telah tercatat dalam buku-buku dongeng di kota kami. (more…)

Advertisements

Apartemen Malaikat
August 28, 2016


Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 28 Agustus 2016)

Apartemen Malaikat ilustrasi Suara Merdeka

Apartemen Malaikat ilustrasi Suara Merdeka

Setelah bertahun-tahun bus itu melaju seakan tanpa tujuan akhir, aku dan Sapono diturunkan di gedung tua dengan gerbang berlogo ayam jago. Sapono membawa barang berupa sekeping white board dan spidol warna hitam yang baunya tidak enak. Papan itu digantung begitu saja di lehernya untuk dapat berkomunikasi, karena ia tidak memiliki kepala. White board itu didapat secara gratis ketika malaikat Sapono menumpang bus pelintas dua dunia.

Jika Anda belum mendengar alasan bagaimana aku, yang manusia biasa, terjebak di alam gaib ini dan tidak bisa pulang dan terpaksa mengikuti kemana malaikat bernama Sapono pergi, sebaiknya tidak perlu mendengar lebih jauh tentang ini. (more…)

Pengantar Malaikat
June 26, 2016


Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 26 Juni 2016)

Pengantar Malaikat ilustrasi Farid

Pengantar Malaikat ilustrasi Farid

Suatu malam, ketika kepalaku setengah pusing, seseorang mengetuk pintu. Kuintip dari jendela; aku tahu ia bukan manusia. Tidak ada manusia hidup tanpa kepala. Karena tidak pernah takut dengan apa yang orang sebut hantu, kubuka saja pintuku dan kutanya ada perlu apa dia kemari.

Lelaki itu tentu tidak bisa bicara, tetapi di lehernya terkalung sekeping white board dan nyaris membuatku tersedak. Seekor hantu membawa white board, dan ia memegang spidol hitam seperti seorang guru yang siap menerangkan sebuah teori di depan kelas. Apa yang Anda pikirkan jika melihat hantu semacam ini? (more…)

Agama Baru Penemu Dompet
April 17, 2016


Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 17 April 2016)

Agama Baru Penemu Dompet ilustrasi Toto

Agama Baru Penemu Dompet ilustrasi Toto

Sebuah dompet tergeletak di dekat selokan, berisi uang jutaan rupiah dan beberapa lembar tulisan aneh. Aku tidak tahu siapa pemilik dompet ini, tetapi kukira dia manusia dermawan dan tidak memikirkan soal dunia. Salah satu tulisan itu berbunyi: boleh ambil sesuka Anda, tetapi jangan semua, dan kembalikan dompet itu ke tempat di mana Anda menemukannya.

Memang aneh, tetapi karena dompet ini nyata, bukan gaib, dan berisi pecahan uang seratus ribu dalam jumlah sedemikian banyak, diam-diam aku menepi dan memeriksa lebih teliti. Sudah pasti, yang dimaksud ambil oleh tulisan itu tidak lain adalah uang. Jadi, aku boleh ambil berapa pun, tetapi sesudah itu harus menaruh dompet itu kembali? (more…)

Pak Kodir
April 17, 2016


Cerpen Ken Hanggara (Republika, 17 April 2016)

Pak Kodir ilustrasi Rendra Purnama

Pak Kodir ilustrasi Rendra Purnama

Orang-orang berkumpul di masjid pagi itu, menonton seorang ahli ibadah sedang berada dalam posisi sujud selama lebih dari satu jam. Tentu saja beliau sudah mangkat… Orang memanggilnya Pak Kodir. Sehari-hari jualan soto di pertigaan dan semua orang kenal soto ayamnya yang lezat. Jadi, ketika kabar ini merebak, orang-orang pun berpikir, “Siapa yang jual soto seenak itu lagi, ya?” (more…)

Pezikir Jembatan
November 1, 2015


Cerpen Ken Hanggara (Republika, 01 November 2015)

Pezikir Jembatan ilustrasi Rendra Purnama

Pezikir Jembatan ilustrasi Rendra Purnama

Duduk di jembatan penyeberangan, kakek itu bersikap bagai pertapa; tak bergeser, tak bicara, tenang, terpejam, dan terus berzikir. Kemeja dan sarung lusuhnya, yang berlubang di banyak bagian, mengingatkanku pada almarhum bapak di kampung. Dulu bapak sering bersila seperti itu, duduk tenang, tak bicara, mata terus terpejam, dan bibir tak henti zikir. Bedanya, almarhum bapak tidak melakukan di jembatan penyeberangan, jadi tontonan orang, apalagi dengan sebuah mangkuk seng yang terus gemerincing di depan kaki. (more…)