Archive for the ‘Kartika Catur Pelita’ Category

Terbang
July 31, 2016


Cerpen Kartika Catur Pelita (Suara Merdeka, 31 Juli 2016)

Terbang ilustrasi Farid

Terbang ilustrasi Farid

“Ibu tak ingin kau jadi pilot. Setelah kehilangan Ayah, lalu abangmu, Ibu tak ingin kehilanganmu karena terbang!”

Padahal sejak kecil ia suka diajak Ayah terbang. Padahal ia paling senang melihat ayahnya terbang. Padahal ia bangga memiliki Ayah dan Abang yang pintar mengemudikan pesawat terbang.

Demi Ibu, ia akhirnya memupus cita-cita yang sudah kadung mendarah daging. Demi Ibu, selepas SMA, ia urung mendaftar ke sekolah penerbang. (more…)

Advertisements

Balada Orang-orang Tercinta
December 14, 2014


Cerpen Kartika Catur Pelita (Republika, 14 Desember 2014)

Balada Orang-orang Tercinta ilustrasi Rendra Purnama

Balada Orang-orang Tercinta ilustrasi Rendra Purnama

Ahad yang cerah. Pagi-pagi setelah sembahyang Subuh, Mak telah pergi ke pasar untuk berjualan sembako di kiosnya. Tentu, Mak berangkat bersama Abi dengan menaiki labi-labi milik kami. Karena ayah berprofesi sebagai sopir labi-labi—sejenis angkutan—di kota bumi Serambi Aceh ini. Sebagai sopir, Abi tak pernah mengenal hari libur.

Menurut Abi, karena setiap hari makan, maka setiap hari kita harus bekerja. (more…)

Kabut Api
May 11, 2014


Cerpen Kartika Catur Pelita (Republika, 11 Mei 2014)

kabut-api-ilustrasi-rendra-purnama

Kabut Api ilustrasi Rendra Purnama

“KALAU kau masih nekat juga, akan kucacah-cacah, kubakar, dan kubuang ke laut!”

Seharusnya Mintarsih menyembunyikan baju yang baru selesai dijahit itu. Semestinya Yu Tami tak mengantarkannya ke rumah. Andai saja ia menyerahkannya ketika nelayan itu sedang miyang.

“Baju baru, beli baju baru lagi!” Kang Baidi marah-marah.

“Ini untuk kondangan kawinan Aminah, keponakanmu.”

“Bajumu yang lainnya masih bagus. Baru sepekan yang lalu kamu beli baju!”

“Bosan, Kang. Masak ke kondangan pake baju itu, itu lagi!” (more…)