Archive for the ‘Karta Kusumah’ Category

Bolehlah Kami Menumpang Mandi
August 13, 2016


Cerpen Karta Kusumah (Koran Tempo, 13-14 Agustus 2016)

Bolehlah Kami Menumpang Mandi ilustrasi Munzir Fadly

Bolehlah Kami Menumpang Mandi ilustrasi Munzir Fadly

Kalau ada sumur di ladang, bolehlah kami menumpang mandi. Kalau ada umur yang panjang, bolehlah kami menumpang mandi. Kalau hari bakal terus panas berdengkang, bolehlah kami menumpang mandi.

ITU pantun? Jelas bukan. Itu adalah keluh-kesah, bisa juga harapan, atau angan-angan, yang ditulis Ivan.

Sudah genap enam hari Ivan tidak mandi dan itu membuatnya kehilangan satu-satunya kemewahan yang bisa ia banggakan. Memang, pernah ada seorang lelaki yang berasal dari Dehzagh, sebuah kota kecil di Iran, yang bahkan tidak mandi selama lebih dari 60 tahun dan ia menjadi terkenal karenanya. Lelaki itu biasa dipanggil Amoo Hadji. Konon, ia tidak mandi karena patah hati setelah berpisah dengan perempuan yang ia cintai. Tidak mandi, menurutnya, adalah satu-satunya cara agar ia bisa menjalani sisa hidupnya hanya seorang diri. Dengan tidak mandi, ia yakin orang-orang akan enggan berada di dekatnya dan dengan itu pula ia berharap tidak akan mempunyai teman. Kepada kerabatnya yang prihatin padanya dan memaksanya mandi, ia selalu beralasan bahwa ia akan sakit bila menyentuh air. Badannya akan gatal-gatal dan kepalanya seakan dihinggapi jutaan kunang-kunang. Sekali dua kali karib-kerabatnya bisa menerima alasan tersebut dan membiarkan ia teguh pada pendiriannya, namun pada kali ketiga, mereka mengumpatinya dengan kata-kata yang kira-kira sama artinya dengan: Mati anjinglah, kau! (more…)

Advertisements

Melepas Murai ke Sangkar Teman
April 16, 2016


Cerpen Karta Kusumah (Koran Tempo, 16-17 April 2016)

Melepas Murai ke Sangkar Teman ilustrasi Munzir Fadly

Melepas Murai ke Sangkar Teman ilustrasi Munzir Fadly

INI cerita tentang burung, benar-benar burung harfiah. Namun bila menjelang akhir cerita kau menemukan bahwa cerita ini adalah cerita tentang burung yang lain—burung yang bisa membesar dan mengecil dengan sendirinya, terutama di pagi hari, maksudku—kau boleh saja berhenti membaca sampai di sana. Karena bagaimana pun juga akan ada beberapa orang yang tidak ingin membicarakan perkara burung dengan terang-terangan, apa lagi burung itu burung yang bulunya mulai rontok satu-satu bila dipegang. (more…)

Panduan Membunuh Masa Lalu
June 14, 2015


Cerpen Karta Kusumah (Koran Tempo, 14 Juni 2015)

Panduan Membunuh Masa Lalu ilustrasi Koran Tempo

“KAWAN-KAWAN, sebentar lagi kawan-kawan akan membaca sebuah panduan yang ditulis Tuan Harlivan tentang bagaimana ia membunuh masa lalu. Saya sudah menyimpannya dan akan saya bagikan kepada kawan-kawan. Namun sebelum panduan itu saya bagikan, perkenankanlah saya memberikan pengantar. Ya, semacam basa-basi seorang resepsionis sebelum menyerahkan kunci kamar kepada pelangggan. Panduan yang ditulis Tuan Harlivan ini bukan panduan yang main-main, bukan panduan seperti yang sering kawan-kawan temukan di halaman-halaman tabloid berisi resep masakan. Bukan, bukan itu. Panduan ini sudah mengalami beberapa kali pengujian. Sudah sah sebagai sebuah panduan yang tidak sembarangan. Percayalah, Tuan Harlivan memerlukan waktu lebih dari tujuh tahun untuk menyusun belasan rencana, mengkajinya satu-satu, memprediksi peluang keberhasilan, dan juga membayangkan resikonya dari yang paling sepele sampai yang paling gawat.  (more…)