Archive for the ‘Jusuf AN’ Category

Warisan Ayah
August 11, 2013


Cerpen Jusuf AN (Suara Merdeka, 11 Agustus 2013)

Warisan Ayah ilustrasi Farid Madjid

BIARLAH Ayah saja yang menderita, dengan perut pias membusung, serta wajah ditumbuhi bercak-bercak yang setiap menit akan meledak buncahkan nanah dan darah. Biarlah Ayah tercekam dalam detik-detik sekarat di atas ranjangnya yang luas ditemani puluhan dokter paling andal di kota ini. Andai saja ia nanti mati, kami tak ingin menguburkannya. Kami tak ingin ia mengenalkan pada kami hal paling menakutkan bernama derita.

***

Setelah menyelesaikan kuliah, kami berempat disuruh memilih pekerjaan yang kami suka. Dan entah kenapa pilihan kami sama: membantu Ayah memimpin kota. Sebuah kota yang subur dengan kekayaan alam yang luar biasa melimpah. Sebuah kota yang penduduknya taat beribadah, tetapi gampang dibodohi.  (more…)

Advertisements

Menunggu Tamu
March 17, 2013


Cerpen Jusuf AN (Republika, 17 Maret 2013)

Menunggu Tamu ilustrasi Rendra Purnama

AKHIR-AKHIR ini, sebelum pukul enam pagi, sering kulihat ayah duduk di kursi rotan di beranda sembari mendengarkan berita dari radio baterai yang ia taruh di meja. Ketika loper koran tiba, ayah akan mematikan radio, lalu mulai memamah koran sambil sesekali geleng-geleng kepala. Setelah kenyang memakan berita, ia akan menenteng radionya ke dalam kamar. Dan selepas Zhuhur, ayah kembali keluar kamar, duduk di kursi beranda yang dingin dan lengang memandang nyalang ke seberang jalan dengan napas yang sesekali mendesah. Kemudian, menjelang senja ayah akan menuju ruang tengah, khusyuk menatap TV 14 inci. (more…)

Aku Masih Lelaki, Kirai
February 3, 2013


Cerpen Jusuf AN (Suara Merdeka, 3 Februari 2013)

Aku Masih Lelaki, Kirai ilustrasi Putut Wahyu Widodo

MALAM di sebuah stasiun, setelah tujuh tahun tak bersua, kami kembali jumpa. Kirai mengaku sudah lama mencariku dan aku pun begitu. Kami terharu, berpelukan dan tersedu. Kami tak bisa tertawa karena terlalu bahagia. Setelah bercakap sejenak, Kirai mengajakku ke sebuah rumah di perkampungan kecil. Di sana, di atas ranjang tepatnya, kami melebur rindu. Di tengah percintaan yang dahsyat itu mendadak aku tersadar jika tubuhku masih perempuan, seperti Kirai. Dan percintaan segera kuhentikan. Meski begitu, aku kembali mengulang percintaan semacam itu, sampai berkali-kali. (more…)