Archive for the ‘Junaidi Khab’ Category

Kambing Kurban dan Sepotong Hati
September 11, 2016


Cerpen Junaidi Khab (Suara Merdeka, 11 September 2016)

kambing-kurban-dan-sepotong-hati-ilustrasi-hery-purnomo

Kambing Kurban dan Sepotong Hati ilustrasi Hery Purnomo

Orang-orang masih duduk berkumpul di teras masjid. Seorang takmir yang juga ikut nimbrung dengan pujian penuh kebahagiaan bercerita tentang sedekah Pak Aris. Pada mulanya Pak Aris memang pelit. Tapi, kini ia ingin berkurban pada hari raya kurban. Hanya Pak Aris satu-satunya warga yang memberikan sapinya. Selain itu, kadang hanya tiga ekor kambing. Ada yang urunan. Tapi, Kurnia selalu rutin memberikan kambing ternaknya untuk kurban pada hari raya.

Di tengah embusan angin perbincangan sebagian huruf-huruf meniupkan aroma yang membuat Kurnia harus menanggung malu. Seorang warga selalu memuji Pak Aris dengan hewan kurbannya yang tak tanggung-tanggung. Dua ekor sapi. Tapi, di tengah pujian itu, ada kata-kata yang memang sengaja mengejek Aris karena hanya berkurban satu ekor kambing setiap tahun. Itu pun kambing kurus. (more…)

Advertisements

Kenangan Kemerdekaan
August 14, 2016


Cerpen Junaidi Khab (Suara Merdeka, 14 Agustus 2016)

Kenangan Kemerdekaan ilustrasi Suara Merdeka

Kenangan Kemerdekaan ilustrasi Suara Merdeka

Pada masa penjajahan Jepang, sikap remajaku sangat menggebu-gebu. Aku selalu ingin berperang dan menantang orang-orang Jepang. Tapi, kadang nyaliku bagai kain basah karena tak memiliki senjata tajam seperti pedang atau keris. Aku dengar-dengar dari banyak taman dan tetangga, mereka menggunakan bambu untuk membunuh orang-orang Jepang. Pada mulanya aku meragukan tentang penggunaan bambu sebagai alat untuk membunuh orang. “Masak hanya dipentungkan?” gumamku setangah heran dan tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh para tetangga.

Aku pun menyimak dan banyak bertanya perihal bambu yang digunakan untuk membunuh tentara Jepang. Aku baru menyadari setelah melihat dengan mata kepala sendiri. Bambu itu diruncingkan. Seruncing kuku serigala di hutan. Aku segera melonjak ke pagar-pagar rumah untuk menebang pohon bambu untuk diruncingkan. (more…)