Archive for the ‘Julia Hartini’ Category

Gara-gara Tiga Ratus Ribu Rupiah
January 15, 2017


Cerpen Julia Hartini (Suara Merdeka, 15 Januari 2017)

gara-gara-tiga-ratus-ribu-rupiah-ilustrasi-hery-purnomo-suara-merdeka

Gara-gara Tiga Ratus Ribu Rupiah ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Krincing uang logam seribu rupiah jatuh dari dompet kumal dan bau apak milik Raf. Itu adalah uang terakhir yang dipertahankan setelah seharian laki-laki tersebut tak makan. Dengan cepat, dia mengambil koin, dan melihatnya dalam-dalam. Saat itulah, dia teringat sesuatu. Sebab itu, matanya yang kuyu mulai menampakkan geliat. Masih ada harapan bahwa dia tak harus mati kelaparan.

Tiga bulan yang lalu Badri datang ke rumahnya malam-malam untuk meminjam uang. Saat itu, Raf baru mendapat uang setelah membantu seorang laki-laki tua mendorong mobil yang mogok di atas flyover. Uang tersebut disimpan untuk melamar Nurasih di kampung. Namun, dia tak bisa menolak permohonan Badri. Ujian anak Badri yang tinggal beberapa hari lagi lebih penting daripada meminang kekasihnya yang bisa dilakukan kapan saja. Badri berjanji mengembalikan utang setelah gaji dibayar oleh bosnya. (more…)

Advertisements

Kerudung untuk Aini
April 6, 2014


Cerpen Julia Hartini (Republika, 06 April 2016)

kerudung-untuk-aini-ilustrasi-rendra-purnama

Kerudung untuk Aini ilustrasi Rendra Purnama

SORE itu, langit begitu murungnya, padahal matahari belum sepenuhnya pulang ke arah barat. Ketika angin menyeruak bersama udara, tetesan air berguguran mengaliri sungai, memenuhi semesta, membasahi rumah-rumah, gedung bertingkat, dan jalan raya. Para pengendara pun bergegas mencari tempat berteduh sambil nantinya menikmati jajanan hangat yang disediakan penjual bakso atau batagor kuah yang ikut-ikutan meneduh sambil mengais rezeki.

Berbeda dengan pengendara lainnya, Aini dengan tenang mengendarai motor merahnya sambil merasakan dingin air yang menembus pori-pori kulit. Baginya, hujan ialah sahabat, anugerah Sang Khalik.

“Mengapa semua orang takut akan hujan? Bukankan hujan tak bisa dipersalahkan atas segala longsor dan banjir yang terjadi?” gerutu Aini.  (more…)