Archive for the ‘Joss Wibisono’ Category

Salam Perkenalan Spesial
May 14, 2016


Cerpen Joss Wibisono (Koran Tempo, 14-15 Mei 2016)

Salam Perkenalan Spesial ilustrasi Munzir Fadly

Salam Perkenalan Spesial ilustrasi Munzir Fadly

“MATAHARI mencurahkan sinar di atas Amsterdam yang murung. Musim semi tiba, tapi kota kelahiranku ini sepertinya lebih suka terus terlelap dalam winter slaap. Sebenarnya bukan melulu ibu kota, seantero Belanda juga tetular enggan menyambut musim semi 1941 ini. Dan, bukan hanya orang Belanda, para pendatang pun kejangkitan malas yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Tidak terkecuali para studenten Indonesia yang menuntut ilmu di negeri penjajah ini.”

Begitu alinea pertama sepucuk suratku kepada seseorang di Friesland, Belanda utara.

Tapi harus kuakui perkecualian selalu ada. Dan memang aku ingin berkisah tentang dua orang yang diganjar suka dan syukur menyambut musim semi ini. Berlainan dengan sebagian besar warga Amsterdam, Djojo dan Irwan menerima musim semi dengan tangan terbuka. Hanya itu saja persamaan keduanya. Selebihnya mereka bak siang dan malam. Kalau Djojo masih bisa bergerak bebas di luar, maka Irwan harus terus mengurung diri di dalam, membuatnya tak mungkin bisa menyambut musim semi. (more…)

Advertisements

Kamar 256
February 20, 2016


Cerpen Joss Wibisono (Koran Tempo, 20-21 Februari 2016)

Kamar 256 ilustrasi Munzir Fadly

Kamar 256 ilustrasi Munzir Fadly

CUACA Batavia tak ubahnya seperti suasana kalbuku. Kemarin seharian hujan lebat, hari ini panas, sangat panas; diriku serasa hidup dan berada dalam dunia air raksasa yang tak terlihat lagi batasnya. Apalah yang mesti kuperbuat? Kalau menoleh ke belakang, tampak seperti diriku hidup dalam air bersuhu 33 derajat yang tidak begitu menarik. Tetapi ini pilihanku sendiri, bukan? Betapa hidup di negeri tropis ini menyebabkan aku tak punya waktu lagi untuk berpikir tentang musik, tentang Johann Sebastian Bach, misalnya.

Kalaupun hari-hari ini aku tampil sebagai solo alto dalam Oratorium Natal ciptaan Bach, maka penampilanku terasa begitu hampa. Aku hanya mengikuti kehendak Paul Seelig, sang pemimpin yang mengaba tiga kali penampilan kami. Pementasan di Istana Gubernur Jenderal A.W.L. Tjarda van Starkenborgh Stachouwer yang baru saja usai merupakan yang terakhir kalinya, tapi bagiku yang paling tidak memuaskan. Aku sempat heran juga ketika Yang Mulia menjabat tanganku dan memuji penampilanku. Ketika kujawab tanke wol—terima kasih dalam bahasa Fries—mata orang paling berkuasa di Hindia ini berbinar-binar. Baru kali ini aku terlibat dalam pembicaraan basa-basi dengan seorang bangsawan Friesland di Belanda Utara. (more…)