Archive for the ‘Indrian Koto’ Category

Rahasia Tangan
March 27, 2016


Cerpen Indrian Koto (Media Indonesia, 27 Maret 2016)

Rahasia Tangan ilustrasi Cathy A

Rahasia Tangan ilustrasi Cathy A

MALAM itu untuk pertama kalinya dia melakukannya padaku. Kami yang sedang main sembunyi-sembunyian berada di bawah lantai rumah panggung Etek Jani. Linda yang mendapat giliran mencari adalah orang yang takut pada gelap. Mustahil ia bisa menemukan kami dengan cepat.

Saat Linda mulai menghitung, kami yang berjumlah tak sampai sepuluh berebut mencari tempat sembunyi. Ia menarikku ke kolong rumah. Entah bagaimana mulanya tiba-tiba ia sudah menindihku. Aku tak ingat reaksiku saat itu dan bagaimana ia melakukannya. Aku berkeringat dan mengalami rasa yang aneh. Beruntung seseorang menarikku dari suasana menakutkan itu. (more…)

Advertisements

Hari Terakhir Seekor Biawak
October 14, 2011


Cerpen Indrian Koto (Suara Merdeka, 18 September 2011)

IA tak lagi punya kuasa apa pun untuk melepaskanmu dari ancaman maut yang sedekat urat lehermu. Kau terbaring tanpa daya dengan tubuh terikat tali. Beberapa remaja siap menghantamkan apa saja ke tubuhmu jika kau melakukan gerakan sekecil apa pun. (more…)

Kisah Seruas Jalan
May 2, 2011


Cerpen Indrian Koto & Sunlie Thomas Alexander (Suara Merdeka, 1 Mei 2011)

Jalan Pembuka

BEGINI mula-mula, kami sering berebutan jika bicara masa lalu yang lekang di ingatan. Mulai dari jenis mainan, kebiasaan ketika pulang sekolah, buku yang kami baca, hingga jalan-jalan yang menempel di kepala. Meski kami tinggal tidak satu kota, usia yang relatif berbeda dan memiliki perbedaan latar budaya, kami merasa sepakat, ada banyak persamaan di antara kami menghabiskan waktu pada masa kecil. (more…)

Lontong Tek Sidar
February 27, 2011


Cerpen Indrian Koto (Jawa Pos, 27 Februari 2011)

SEMUA orang di kampungku tahu kalau lontong buatan Tek Sidar paling nikmat dan enak. Tak ada tandingannya. Ketupat dengan beras baru akan menerbitkan selera siapa saja yang menciuminya. Jika banyak orang membikin nasi lontongnya dengan membungkus beras dengan plastik, Tek Sidar selalu membikin ketupat dengan pucuk daun kelapa. Gulainya pun akan menitikkan air liur siapa saja. Kalau tidak gulai cabadak, gulai pakis dicampur ikan teri pun jadi, sesekali ia memanjakan selera kami, para pelanggannya, dengan jantung pisang. Di atasnya ditaburi sedikit mihun atau ditambah taburan kerupuk merah. (more…)

Rumah Idaman
September 5, 2010


Cerpen Indrian Koto (Suara Merdeka, 5 September 2010)

SEBELUM pulang, Ijui sudah memutuskan untuk tidak lagi meninggalkan kampung dan anak-anaknya. Delapan tahun, betapa waktu rasanya amat cepat untuk dihitung dari belakang. Ia ingat seluruh peristiwa yang menyeretnya pergi ke negeri orang. (more…)