Archive for the ‘Indah Darmastuti’ Category

Perdebatan sebelum Senja
February 26, 2017


Cerpen Indah Darmastuti (Media Indonesia, 26 Februari 2017)

perdebatan-sebelum-senja-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Perdebatan sebelum Senja ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

BELUM habis setengah gelas kopi ketika polisi bermuka lonjong itu kembali memakai arloji setelah dia gosok-gosok hingga mengkilap dengan lap khusus milik polisi bermuka bulat yang duduk di sebelahnya. Postur tubuh keduanya nyaris serupa. Sama-sama muda, kulit terang, dan badan tegap. Potongan rambutnya juga sama dengan kebanyakan taruna yang baru lulus dari akademi. (more…)

Advertisements

Tuan Tanah
March 20, 2016


Cerpen Indah Darmastuti (Jawa Pos, 20 Maret 2016)

Tuan Tanah ilustrasi Bagus Hariadi

Tuan Tanah ilustrasi Bagus Hariadi

KULETAKKAN gagang telepon setelah suara di seberang sana mengucap “terima kasih, selamat malam.” Debar jantungku masih kencang. Aku harus secepatnya mencari tiket pulang untuk kakak. Dia tidak boleh terlalu lama tinggal di sana, atau sesuatu yang buruk akan menimpanya. Oh, tidak! Itu tak boleh terjadi. Paling lambat besok sore aku harus sudah mendapatkan tiket. Saat ini sudah terlalu larut untuk mengurusnya. Penerbangan apa pun tak jadi soal yang pen ting secepatnya bisa membawanya pulang.

Kabar tengah malam itu sungguh buruk. Berpotensi membuat insomniaku kumat. Aku masih shock dan tertekan oleh kabar dari Anastasia, perempuan yang mengaku kawan kakak. Sekitar lima jam yang lalu, kakak kejang-kejang. Itu kali ketiga kakak tiba-tiba roboh ke tanah lalu kejang dengan mata membeliak. Membuat penduduk setempat tercekam ngeri dan ketakutan. (more…)

Getir Pesisir
June 13, 2011


Cerpen Indah Darmastuti (Suara Merdeka, 12 Juni 2011)

ANDAI aku Nabi Musa yang memiliki tongkat terberkati dengan kuasa, aku akan mengacungkan tongkat ini membelah laut itu hingga kering barang empat depa dari ujung dermaga sini sampai ujung daratan sana. Ombak pecah, gulungannya akan menyibak ketika angin yang didatangkan dari acungan tongkatku mengiris triliunan kubik air, bagai membelah agar-agar. Angin itu menyerbu laksana serdadu. (more…)