Archive for the ‘Indah Ariani’ Category

Ai-Bi
October 27, 2011


Cerpen Indah Ariani (Koran Tempo, 23 Oktober 2011)

“Tuliskan semua yang kamu rasakan di kaca atau apa saja. Lalu hapus. Dan kau tak akan bersedih lagi.”

KALIMAT-KALIMAT itu terngiang lagi di benak Ai-Bi. Gadis kecil bermata bintang itu ragu-ragu melakukan apa yang dianjurkan Paman Han, lelaki yang pernah ditemuinya dalam mimpi. Ai-Bi bimbang. Di kaca mana ia harus tuliskan lara? Kaca jendela, kaca meja, atau cermin dalam kamarnya? Atau pada kaca piring dan gelas yang jumlahnya terus menipis karena terus jadi sasaran pertengkaran ayah dan ibu? Ah, Ai-Bi tak pernah tahan mendengar nyaring piring pecah atau muncratan darah dari telapak tangan ayah. Darah yang selalu berhasil membuat ibu bungkam. Bukan karena ibu lelah membantah, tapi karena dia pingsan. Ibu takut darah. Fobia, kata Kak Sita, anak tetangga sebelah rumah yang kuliah di fakultas kedokteran. (more…)

Advertisements

Rumah
March 13, 2011


Cerpen Indah Ariani (Koran Tempo, 13 Maret 2011)

TEMPAT ini masih seperti dua puluh tahun lalu. Saat pertama kali kita pindah ke sini. Kamarnya masih tiga, dengan dua kamar mandi terletak di antara kamar anak-anak yang tak pernah terisi. Dua kamar itu tetap kosong hingga kini. Kita berbagi kamar itu satu-satu, sebagai tempat sembunyi saat ingin sendiri. Kamu dapat kamar di sebelah kanan dan aku di kiri kamar mandi. Kamarmu menghadap ke halaman depan dan aku menghadap halaman belakang. Di kamar persembunyianmu, kamu bisa melihat jalanan lengang yang hanya dilalui pedagang roti pagi hari atau tukang sate langgananmu pada malamnya. Halaman depan yang cukup lapang terisi sebuah pohon mangga besar yang kau tanam dari biji mangga yang kita makan saat pertama kali datang ke sini. Mangga gadung yang manis sekali. Kamu menyirami dan mengajaknya berbincang layaknya kekasih. (more…)