Archive for the ‘Ilham Q Moehiddin’ Category

Kota dalam Sarang Lebah
November 13, 2016


Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 13 November 2016)

kota-dalam-sarang-lebah-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Kota dalam Sarang Lebah ilustrasi Bagus/Jawa Pos

AKU dan ibu menatap pisau besar di genggaman ayah. Pisau itu kemudian bergerak membelah sebuah sarang lebah sebesar bola basket, kami terperangah menemukan sebuah kota di dalamnya.

Sebuah kota yang puluhan tahun ditinggalkan. Kota yang terbengkalai dengan gedung-gedung tua, jalan dan jembatan ringsek, dan aroma kematian. Ibu mendadak membekap mulutnya. Aku menutup hidung. Tetapi ayah memilih diam, sebelum beberapa saat kemudian ayah mengatakan sesuatu yang membuatku ingin muntah.

“Inilah makanan kita malam ini. Ibumu akan memberinya santan kelapa dan kunyit. Malam ini kita akan makan dengan perasaan bahagia.” (more…)

Advertisements

Hanya Fabel yang Kita Punya
May 8, 2016


Cerpen Ilham Q Moehiddin (Media Indonesia, 08 Mei 2016)

Hanya Fabel yang Kita Punya ilustrasi Pata Areadi

Hanya Fabel yang Kita Punya ilustrasi Pata Areadi

KAU pandangi wajah ibumu yang tiba-tiba murung. Wajah yang murung sekali. Ibumu menoleh dan bicara. “Ayahmu tak pernah ragu-ragu,” desisnya. “Entah dari mana rasa takut itu kau warisi.”

Ibumu baru saja membuka ingatannya tentang mendiang ayahmu. Lihatlah mata ibumu, lihatlah betapa mata ibumu kehilangan cahayanya. Suram dan sepi seperti kuburan. Seharusnya kau memperhatikan laknat di depanmu itu. Laknat yang sedang bergerak-gerak, ingin terbebas dari sesuatu yang lengket. (more…)

Robohnya Bukit Kami
April 24, 2016


Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 24 April 2016)

Robohnya Bukit Kami ilustrasi Bagus

Robohnya Bukit Kami ilustrasi Bagus

SURAD berlari menembus belukar hutan yang rapat. Napasnya hampir habis, tapi suara gemuruh dari hutan bagian selatan menghantuinya. Hutan di sisi barat ini jalan terpendek satu-satunya menuju tobu (kampung) Olondoro. Hujan telah menggemburkan tanah, membuat goyah bukit Lere’Ea yang mengelilingi desa di mulut tanjung itu.

Tapi, harus ada yang memeringati orang-orang—harus ada. (more…)

Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia
January 10, 2016


Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 10 Januari 2016)

Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia ilustrasi Bagus

Tahun Baru dan Peradilan Orang-Orang Vastivia ilustrasi Bagus

Hari Pertama setelah Malam Tahun Baru

ORANG-ORANG yang bekerja sejak malam tahun baru itu seperti tak lelah. Ketika subuh pertama beranjak, di hari pertama Januari, mereka setia melubangi tanah, mendirikan tiang, dan menggosok alas pualam di sebuah altar. (more…)

Kunang-kunang Laut
July 5, 2015


Cerpen Ilham Q Moehiddin (Koran Tempo, 5 Juli 2015)

Kunang-kunang Laut ilustrasi Munzir Fadly

Kunang-kunang Laut ilustrasi Munzir Fadly

URASHIMA Yoshi mendapat jawaban atas kecemasannya. “Orang-orang sudah meninggalkan tradisi tua yang tak kau lepaskan. Zaman Edo sudah berakhir dan kebiasaanmu itu membuat mereka cemas,” tukas Jiraiya, lelaki tua penjaga kuil Hachiman.

Jiraiya meminta Yoshi membakar batang hio sebelum mereka larut dalam doa. (more…)

Kapal Terakhir
November 23, 2014


Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 23 November 2014)

Kapal Terakhir ilustrasi Bagus

Di tepian Nieuwe Maas, Rotterdam

Roderick menemui Slavina selepas matahari tergelincir pukul tiga sore. Cahayanya menyandari punggung gadis itu —membiaskan kemilau kemerahan di rambutnya. Tapi kondisi Slavina membuat lelaki itu cemas. Ia tegak di beranda, di sisi Slavina, menghadap ke sungai Nieuwe Maas dalam kebisuan. Mereka ditikam canggung. Ah, bukan mereka, tapi cuma Roderick saja. Untuk pertama kali, lelaki itu harus mengasihani dirinya. Ia butuh penebusan atas kerumitan yang sedang terjadi.

“Aku datang, Slavina,” pelan lelaki itu berujar seraya meletakkan telapak tangannya di bahu Slavina, “aku datang, Sayang.” (more…)