Archive for the ‘Ida Ahdiah’ Category

Aksesori
August 25, 2013


Cerpen Ida Ahdiah (Jawa Pos, 25 Agustus 2013)

Aksesoris ilustrasi Budiono

SATU per satu, persiapan untuk pernikahan putriku, Sekar, mulai kelihatan bentuknya. Undangan sudah tinggal mencantumkan nama dan alamat, menu katering sudah dipesan dan baru saja, pesanan 15 baju koko warna kuning untuk anak laki-laki dan 15 setel baju muslimah warna merah muda untuk anak perempuan, kuterima. Aku juga sudah membeli 2 setel baju muslimah dan 2 setel baju koko untuk dewasa.

’’Sebulan menjelang menikah, tolong kamu antar baju-baju ini ke panti yatim. Kamu ajak Beno ke sana. Jangan lupa katakan pada pengasuh panti untuk datang di akad pernikahanmu, pukul 10 pagi. Ibu sudah siapkan mobil untuk menjemput mereka,” pintaku pada Sekar sambil menunjukkan baju-baju itu padanya malam itu, ketika ia tiba di rumah seusai mengepas kebaya pengantinnya.  (more…)

Advertisements

Setengah Restu
September 20, 2010


Cerpen Ida Ahdiah (Jawa Pos, 12 September 2010)

PANDAN menghentikan mobil di tepi persawahan yang sambung-menyambung hingga menyentuh kaki bukit yang berjajar memagari kampung-kampung kecil. Dari kejauhan tampak asap mengepul dari bakaran jerami kering sisa panen. Aromanya mengapung di udara, mengingatkan Pandan pada aroma merang bakar yang dulu digunakan Ibu untuk membersihkan rambutnya yang panjang, merapat melewati pinggul. Semasa kecil dulu, Pandan paling suka menciumi rambut Ibu sehabis keramas, membelitkannya di leher, membuatnya geli sendiri. Kemudian Ibu akan meminta ia membantu menyisir rambut dari belakang. (more…)

Miss Konseli
May 2, 2010


Cerpen Ida Ahdiah (Jawa Pos, 2 Mei 2010)

BARU saja, Andrea, siswi kelas 2 SMA, menghubungi seluler Miss Konseli, begitu siswa-siswa di sekolah memanggil Rima. Sore itu juga ia ingin bertemu dengannya untuk sebuah urusan yang sangat penting. Padahal itu hari Minggu! (more…)

Subuh Mak’ke
January 24, 2010


Cerpen Ida Ahdiah (Republika, 24 Januari 2010)

Subuh Mak'ke ilustrasi Rendra

ADA suara yang menggangguku pada sebuah subuh gerimis, di bulan Januari. Suara azan dari mushala itu membuatku terjaga dengan tidak biasa. Bola mataku kaku menatap langit-langit kamar yang tampak samar-samar karena hanya disinari lampu tidur berwatt rendah. Telingaku kupasang baik-baik mendengarkan alunan azan merdu, yang kunikmati dengan hati tidak menentu, antara percaya dan nyata, sebab tidak biasa. Seumur hidup baru kali ini aku mendengar azan serupa itu…. (more…)