Archive for the ‘Hasan Al Banna’ Category

Kaki yang Ajaib
May 28, 2012


Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 20 Mei 2012)

DI MANA-MANA negeri, hampir dipastikan, tak akan kalian temukan gadis-gadis yang masing-masing hanya terdiri dari sepasang kaki. Namun, negeri kami adalah perkecualian! Tepat sekali, setiap gadis di negeri kami cuma terdiri dari sepasang kaki. Ou, tentu, silakan kerat julur lidah kami kalau-kalau kisah ini semata bualan. (more…)

Advertisements

Kebohongan Ustad Baihaqi
March 6, 2012


Cerpen Hasan Al Banna (Jawa Pos, 4 Maret 2012)

SETIBA di rumah, air muka Baihaqi keruh. Apa pasal? Apalagi, kalau bukan karena aduan istrinya perihal kedatangan tamu lepas asar tadi. Lama Baihaqi terpaku. Dia mengais janggutnya dengan jemari, seolah hendak melacak jawaban. Namun, dia tetap tak kuasa membebaskan diri dari sandera pertanyaan: mengapa Ujang Pelor bertamu ke rumahnya? (more…)

Pengkolan Buaya
January 12, 2012


Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 8 Januari 2012)

PERHATIKAN buaya berwarna abu-abu gersang itu lekat-lekat! Tampangnya beringas, bukan? Mulutnya menganga, memamerkan sengketa gigi yang meski bak gergaji usang, tapi menakutkan. Eh, lihat, bukankah kujur tubuhnya menyerupai huruf S raksasa? Ia banting kepala ke kanan, seolah ingin menerkam ekornya sendiri. Namun, sebaliknya, ekor buaya laksana cemeti berduri yang hendak melecut sisi kiri kepalanya. (more…)

Guru Jabut
August 22, 2011


Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 21 Agustus 2011)

BUNYI nio-nio terdengar kuyup! Ketimpong gong kecil itu menyela haru rindu yang berlangsung di rumah Marapande. Bakda subuh tadi, Dorlan tiba di rumah Uda Marapande, adik kandung Ayahnya. Letih oleh perjalanan Jakarta-Medan dengan pesawat, dilanjutkan dengan bus ekonomi satu malam utuh, mendadak lenyap oleh peluk cium Uda Marapande dan istrinya, Bujing Ros. Lebih dari 15 tahun Dorlan tak mengunjungi rumah tempat ia menghabiskan masa kanak. Iyalah, Uda Marapande dan Bujing Ros tak sebugar dulu. Telikung garis usia memang tak mudah dikecoh. (more…)

Jaelani di Tangan Juru Cerita
May 2, 2010


Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 2 Mei 2010)

SEKIRANYA Jaelani dituntut meluruhkan dedaun kegetiran hidup dari dahan kenangannya, tolong kasih tahu bagaimana caranya! Heh, sejak kanak, nasib telah menjebloskannya ke kubang kemelaratan. Lantas, hampir setengah abad kemudian Jaelani baru merasakan betapa hangatnya matahari kebahagiaan. Andai di hilir usianya ia sebenar bahagia, kepayang sekalipun, riwayat kecadasan hidupnya tak akan melorot dari ingatannya. Mungkin iya kalau kelak Jaelani gila! (more…)

Tio na Tonggi
January 28, 2010


Cerpen Hasan Al Banna (Koran Tempo, 3 Januari 2010)

 

 

LEGENDA Pitta Bargot Nauli! Bagaimana bisa Tio merontokkan sepahatan cerita itu dari dinding benaknya? Bayangkan, tak terbilang jumlah malam yang dihabiskan Tio untuk tekun menyimak Bapaknya bercerita. Sebelum berakhir, jangan harap Tio hanyut ke sungai lelap, lalu tenggelam ke kedalaman dekap Bapaknya.

Konon di tanah Batak, seperti yang dikisahkan Bapak Tio berulang-ulang, tersebutlah seorang gadis piatu bernama Pitta Bargot Nauli! Ia anak yang berbakti kepada orangtuanya. Pitta tak sampai hati melihat Bapaknya, Jalotua, terus-menerus terpenjara kemiskinan, apalagi sejak menyandang status duda. Maka gadis baik hati itu pun bermohon kepada Mulajadi na Bolon—Maha Pencipta Alam Semesta, “Aku rela mati asal mayatku berguna bagi Bapakku! Tak apa, selagi mayatku bisa menebus Bapakku dari sandera kesusahan!” (more…)