Archive for the ‘Hanna Fransisca’ Category

Malam Imlek
March 10, 2013


Cerpen Hanna Fransisca (Media Indonesia, 10 Maret 2013)

Malam Imlek ilustrasi Pata Arendi

IA memang sudah tua, ringkih, dan belakangan selalu buang air di tempat tidur. Tapi, ia punya harta karun: 6 anak laki-laki, 6 menantu perempuan, 5 anak putri, 5 menantu laki-laki, 21 cucu dalam, 18 cucu luar, 3 cicit luar, dan 2 cicit dalam. Enam puluh enam nyawa manusia, dan sebelas di antaranya keluar dari rahimnya! Sungguh harta karun yang besar karena Thian telah memberi banyak keajaiban. Semua anak laki-laki dilimpahi kekayaan, semua anak perempuan dipersunting lelaki kaya. (more…)

Advertisements

Aroma Terasi
May 2, 2011


Cerpen Hanna Fransisca (Koran Tempo, 1 Mei 2011)

POHON beringin itu tumbuh di halaman kantor imigrasi. Tidak seperti beringin yang tumbuh di kuburan atau di alun-alun pusat kota di Jawa. Tak ada angin sejuk yang berhembus di antara daun-daunnya. Barangkali panas Jakarta tidak lagi cocok dengan kesaktian beringin. Ataukah kantor imigrasi yang gersang dan sedikit menakutkan itulah yang membuat angin dari pohon beringin tidak terasa dingin? (more…)

Sembahyang Makan Malam
March 10, 2010


Cerpen Hanna Fransisca (Suara Merdeka, 21 Februari 2010)

AYAM jantan yang dikebiri, yang oleh kodrat manusia diganti nama menjadi jam kai, kini terbaring mati. Tubuhnya gemuk. Barangkali dulu ia adalah calon petarung sejati, dengan taji runcing setajam pisau. Tapi atas nama doa tulus yang kelak diucapkan pada malam imlek, pisau taji itu ditelikung berbulan-bulan. Lalu berakhirlah nasibnya sampai di sini: pada malam imlek saat jasad jam kai terbaring di dasar mangkuk tembaga, —setelah direbus dengan berbagai aroma bumbu. (more…)