Archive for the ‘Han Gagas’ Category

Wayang Potehi: Cinta yang Pupus
January 24, 2016


Cerpen Han Gagas (Kompas, 24 Januari 2016)

Wayang Potehi Cinta yang Pupus ilustrasi Hartono

Wayang Potehi Cinta yang Pupus ilustrasi Hartono

Ketika dalang memasukkan tangannya ke dalam kantong dan mulai menggerakkan boneka wayang, gembreng dan tambur dipukul diiringi gesekan rebab yang melengking menyayat telinga, saat itu mataku menangkap wajahmu di antara jejalan penonton.

Jantungku berdegup kencang. Wajahmu berkilau dalam siluet cahaya oranye lampu panggung. Kecantikanmu yang memancar bagai berlian menghisapku begitu dalam. Rambutmu masih seperti dulu tergerai indah di bahu. Aku tak dapat melepaskan pandanganku darimu. (more…)

Advertisements

Dua Kisah antara Bunga dan Cinta
May 25, 2014


Cerpen Han Gagas (Suara Merdeka, 25 Mei 2014)

Dua Kisah antara Bunga dan Cinta ilustrasi Heru 2014

(1) Riwayat Bill Palmer

SAAT John sedang meracik anggur di dalam gelas, seorang lelaki bertongkat masuk ke kedai tuannya. Siluet matahari yang menerobos menerangi tubuhnya yang besar membuat John merasa sedang berhadapan dengan maut.

Cahaya di kaki langit horizon lenyap, tirai jendela kedai di pojok yang biasanya diam membeku bergoyang terempas angin, John terpaku sebentar, hanya karena bau harum yang tiba-tiba tercium oleh hidungnya, membuatnya tersentak sadar, tanpa ia sadari, tangannya terhenti, ‘’Bau mawar….’’ (more…)

Bangunan Itu Menelan Ibu dan Bulanku
August 31, 2010


Cerpen Han Gagas (Suara Merdeka, 29 Agustus 2010)

AKU begitu suka melihat bulan. Entah kenapa. Mungkin karena bulan adalah benda yang kali pertama kulihat. (more…)

Redi Kelud
June 27, 2010


Cerpen Han Gagas (Kompas, 27 Juni 2010)

AKU lahir di tengah keluarga yang berbeda. Bapakku tunawicara, ibuku suwung kalau kambuh jadi begitu menakutkan. Marno, kakak pertama, suka berendam seharian. Kalau dilarang berendam, paling tidak ia mandi empat kali sehari, pukul 8, 11, 2, dan 4. (more…)

Susuk Kekebalan
March 28, 2010


Cerpen Han Gagas (Republika, 28 Maret 2010)

Susuk Kekebalan ilustrasi Republika

HATIKU gamang saat kaki menjejak pematang dan menyusuri setapak. Gelap turun sempurna memerangkap semua rumah dan pepohonan. Bulan, walau separuh, cahayanya berhasil membuat bayang-bayang pohon memanjang dan membesar, dan angin menjadikannya bergoyang-goyang. Di depan, tampak sebuah rumah limasan kabur disinari lampu  senthir , membiaskan sinar suram. Lengang. (more…)