Archive for the ‘Gus tf Sakai’ Category

Angkutan dari Rusun
March 16, 2014


Cerpen Gus tf Sakai (Media Indonesia, 16 Maret 2014)

Angkutan dari Rusun ilustrasi Pata Areadi

PAGI ini tak bisa lagi Iman tak marah. Kapal gratis ke Muara Baru masih belum bisa jalan, sementara Rahmat anaknya yang sekolah pada sebuah SD di Pluit tak mau berangkat dengan bus. Tapi tentu saja Iman mestinya ngerti. Dengan bus, dari Marunda, Cilincing, ke Pluit, Penjaringan, jaraknya 10 kilometer. Pukul berapakah Rahmat akan sampai di sekolah?

Tetapi Iman sudah bilang ke Rahmat agar bangun lebih pagi. Rahmat saja yang tampaknya seperti malas. Ah, ada apakah sebetulnya? Walau sejak pindah ke Marunda banyak hal memang tak lagi sama, namun Iman punya firasat bukan karena itu Rahmat berubah. Ya, ada sesuatu yang seperti berubah. Kelas 4 SD, 10 tahun, memang usia nakal-nakalnya. Apakah ada sesuatu yang terjadi di sekolah?  (more…)

Advertisements

Gangga Sri
March 9, 2014


Cerpen Gus tf Sakai (Koran Tempo, 9 Maret 2014)

Gangga Sri ilustrasi Munzir Fadly

DARTO berontak, berusaha berteriak. Tetapi tenaganya bagai tak ada dan suaranya bagai tertahan di tenggorokan. Sepasang mata merah. Embus napas dingin. Saat jemari lentik itu semakin kuat mencekik, Darto tak lagi tahan. Tubuhnya seolah sudah hendak meledak ketika sesuatu, tiba-tiba, seperti mengguncang-guncang pundaknya. “Bangun, Darto! Bangun!”

Darto terlepas dari cekikan. Napasnya gelagapan.  (more…)

Bulan Biru
January 6, 2013


Cerpen Gus tf Sakai (Kompas, 6 Januari 2013)

Bulan Biru ilustrasi M Bundhowi

AKU tahu, kau mengenal bulan biru. Bulan bulat sempurna kedua pada kalender Masehi di bulan yang sama. Purnama ke-13 yang muncul periodik dua atau tiga tahun karena selisih 10,6 hari setiap tahunnya. Tetapi, pernahkah kau melihat purnama kedua itu, dalam setiap 106 kali kemunculan, mengembalikan apa pun kejadian ke suatu malam lain di lain zaman? (more…)

Mawar yang Ia Ingin Lupa
September 13, 2011


Cerpen Gus tf Sakai (Koran Tempo, 4 September 2011)

ENTAH kapan. Ia tak sengaja memandang jendela kaca yang menghubungkan terasnya dengan teras sebelah, dan melihat mawar itu. Hanya setangkai, pekat merah, rekah, mendongak bagai tengadah. Tanpa cabang, tanpa ranting, tegak lurus bagai mencuat dari pot kecil ramping. Kemudian ia lupa. (more…)

“Pakiah” dari Pariangan
August 29, 2011


Cerpen Gus tf Sakai (Kompas, 28 Agustus 2011)

BAGI orang-orang di kampung itu, cerita tentang pakiah sudah jadi masa lalu. Ia tertinggal dalam surau-surau tua, di tebal debu kitab-kitab kuning yang berhampar-serak, dalam bilik-bilik garin yang daun-daun pintunya telah somplak. (more…)

Kak Ros
January 19, 2011


Cerpen Gus tf Sakai (Kompas, 16 Januari 2011)

BEGITU keluar dari kamar dan tak sengaja menatap ke taman itu, aku terpaku: Kak Ros, perempuan hampir separo baya itu, sedang membungkuk menyorongkan wajahnya ke rimbun tapak dara. (more…)