Archive for the ‘Guntur Alam’ Category

Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong
April 3, 2016


Cerpen Guntur Alam (Kompas, 03 April 2016)

Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong ilustrasi T Hartono

Lilin Merah di Belakang Meja Mahyong ilustrasi T Hartono

SEORANG perempuan tua di balik meja mahyong teringat kepada sebatang lilin merah dalam wadah emas berpuluh-puluh tahun lalu. Lilin merah itu bertuliskan nama laki-laki dan perempuan di masing-masing ujungnya. Sebatang lilin yang harus terbakar tanpa terputus. Lilin merah yang akan menyegel si perempuan dalam pengabdian sebagai istri untuk selama-lamanya, apa pun yang terjadi. Lilin yang seharusnya terbakar sampai habis, tetapi angin kecil jahat telah memadamkannya. Dan sejak itu, takdir seperti kesedihan yang tak pernah kenyang. Si perempuan terus berusaha menyalakan setengah batang lilin yang tersisa, tapi itu hanya menjadi angan-angan.

Setelah berpuluh-puluh tahun, setelah dia lebih banyak menelan air mata dan kesedihan, setengah batang lilin merah itu tak kunjung dapat dia nyalakan. Dia berharap gadis kecilnya bisa menyalakan lilin merah itu untuknya. Dan dia menunggu, dari tahun ke tahun, sampai dia merasa gadis kecilnya sudah dewasa dan bisa menjentikkan api dari pemantik. (more…)

Advertisements

Menjelang Kematian Dulkarim
September 6, 2015


Cerpen Guntur Alam (Republika, 06 September 2015)

Menjelang Kematian Dulkarim ilustrasi Daan Yahya

Menjelang Kematian Dulkarim ilustrasi Daan Yahya

Sepekan ini, orang-orang di Tanah Abang dikejutkan dengan berita sekaratnya Dulkarim. Laki-laki berumur setengah abad itu memang sudah lama sakit. Namun, tak ada yang tahu persis tentang apa sakitnya. Istri dan anak-anaknya selalu bungkam bila ditanya tetangga perihal penyakit yang diidap Dulkarim. Akan tetapi, orang-orang menduga, musabab sakit misterius Dulkarim ini pasti ada kaitannya dengan kejadian 10 tahun lalu.
Kejadian memalukan sekaligus memilukan. Tak akan ada orang di Tanah Abang yang bisa melupakan peristiwa itu. Sampai tulang-belulang Dulkarim memutih di alam kubur, riwayat luka itu akan terus dikenang. (more…)

Malam Hujan Bulan Desember
September 15, 2013


Cerpen Guntur Alam (Kompas, 15 September 2013)

ilustrasi cerpen karya Hadi Soesanto

MALAM ketika Ayah membunuh Ibu, hujan turun dengan deras. Aku ingat, itu bulan Desember, karena lonceng dan kidung Natal bergema dari gereja sebelah kontrakan kami. Tak ada yang mendengar jeritan Ibu. Gemuruh hujan menenggelamkannya.

Aku tak tahu, apa alasan yang membuat Ayah berbuat sekejam itu. Dari pertengkaran mereka, akulah biang keladinya. Dari dulu, Ibu memang selalu bercerita, kalau Ayah tak menyukaiku. Aku tak tahu kenapa.  (more…)

Kematian Heartfield
July 7, 2013


Cerpen Guntur Alam (Suara Merdeka, 7 Juli 2013)

Kematian Heartfield ilustrasi Farid S Madjid

SAMPAI sekarang, orang-orang masih bertanya-tanya: Kenapa Heartfield, pengarang yang diceritakan Haruki dalam Kaze No Uta O Kike, memilih bunuh diri dengan cara terjun dari Empire State Building pada tahun 1938 itu? Tahun ketika ibunya meninggal. Seharusnya dia bisa bunuh diri dengan cara yang lebih indah dan baik dan gagah. Yah, semisal dia menembak kepalanya sendiri dengan revolver 38 mm yang berhiaskan mutiara di gagangnya itu. Bukankah dia sangat membangga-banggakan senjatanya itu? Bahkan dia pernah berujar, “suatu saat nanti aku akan menembak diriku sendiri dengan benda ini.”  (more…)

Jerat
April 14, 2013


Cerpen Guntur Alam (Suara Merdeka, 14 April 2013)

 Jerat ilustrasi Hery Purnomo

AKU baru saja membunuh ayahku dan meninggalkan Ibu yang menangisinya. Heran, seharusnya perempuan itu tertawa bahagia karena aku sudah mewujudkan keinginan yang bersemayam dalam hatinya. Mungkin dia terlalu pengecut untuk mengakui itu. Atau bisa jadi, sebenarnya Ibu tengah bersandiwara di depan tetangga, kalau dia begitu kehilangan laki-laki brengsek itu. Padahal kenyataannya, dia senang bukan kepalang. (more…)

Kastil Walpole
September 7, 2012


Cerpen Guntur Alam (Koran Tempo, 2 September 2012)

SUDAH bertahun-tahun orang-orang berdebat tentang hal-hal ini. Tentang Tuan Horace Walpole yang malang, yang meninggal dalam kesunyian dan membawa banyak rahasia ke dalam liang lahatnya. Tentang kisah cintanya yang berselimut kabut pekat yang sulit diungkap. Tentang novelnya yang melegenda, The Castle of Otranto, novel yang masih saja diperdebatkan apakah itu karyanya atau bukan. Tuan Walpole mengembuskan napas terakhirnya di musim semi 1797. Hidupnya benar-benar seperti cerita gothik yang ia tulis sendiri. (more…)

Dua Wajah Ibu
August 6, 2012


Cerpen Guntur Alam (Kompas, 5 Agustus 2012)

PEREMPUAN tua itu mendongakkan wajah begitu mendengar desingan tajam di atas ubun-ubunnya. Di langit petang yang temaram, ia melihat lampu kuning, hijau, dan merah mengerjap-ngerjap pada ujung-ujung sayap pesawat terbang. (more…)