Archive for the ‘Gunawan Tri Atmodjo’ Category

Lelaki Tak Bermata dan Anjing Kudisan
June 8, 2014


Cerpen Gunawan Tri Atmodjo (Suara Merdeka, 8 Juni 2014)

Lelaki Tak Bermata dan Anjing Kudisan ilustrasi Putut Wahyu Widodo

/1/ Kesaksian Kedua Penunggu Makam

AKU melihat sendiri betapa lelaki tak bermata itu meratap dan memohon pada penduduk desa yang sedang sakit mata itu untuk tidak membunuh anjing kudisan di pelukannya. Lelaki itu menjadikan tubuhnya sebagai perisai bagi anjing itu. Beberapa pukulan yang sempat dilancarkan penduduk desa mengenai bagian belakang tubuhnya. Lelaki itu menjerit tertahan sedangkan anjing kudisan itu terus menyalak dengan ganasnya. Anjing itu tidak berlari tetapi justru meringkuk dalam dekapan si lelaki. (more…)

Advertisements

Istri Pengarang
March 30, 2014


Cerpen Gunawan Tri Atmodjo (Jawa Pos, 30 Maret 2014)

Istri Pengarang ilustrasi Bagus

HANYA manusia bodoh yang menganggap cemburu sebagai tanda cinta. Tapi adakah cinta yang datang tanpa kebodohan? Kau tak akan bisa menghindari cemburu tapi kau bisa mengolahnya. Jika gagal, mungkin jalan hidupmu akan berakhir sepertiku saat ini, mendekam di tempat ini dan berurusan dengan rekan-rekan seprofesimu sekarang ini. Mungkin juga kau tak akan percaya pada cerita cemburuku ini karena ini seperti kisah cemburu pada hantu. Sebaiknya kau menyimak ceritaku ini dengan saksama karena mungkin kau dapat belajar banyak darinya.  (more…)

Antara Debu Merah dan Ciuman Catalina
March 2, 2014


Cerpen Gunawan Tri Atmodjo (Suara Merdeka, 2 Maret 2014)

Antara Debu Merah dan Ciuman Catalina ilustrasi Toto

Debu Merah dan Renda Spanyol

ADA yang menarik tanganku dan mendekatkan wajahku pada wajahnya. Lalu ia menatapku lama. Mataku masuk ke matanya, menemukan kedalaman yang asing. Aku segera berkedip dan sepersekian detik itu pula wajahnya terhapus dari hadapanku.

Aku tahu itu wajah angin tapi tiba-tiba aku teringat Tuhan. Sosok agung yang selalu mengambil sesuatu yang aku miliki dengan paksaan. Aku ingat satu atau dua kejadian ketika pertemuan tak bisa lagi dielakkan dan Dia membuatku merasakan perpisahan, merasakan kehilangan, yang kadang terasa sakit namun lebih sering terasa membebaskan.  (more…)

Pembaca Masa Depan dari Selatan
January 31, 2011


Cerpen Gunawan Tri Atmodjo (Suara Merdeka, 30 Januari 2011)

KETIGA kakak seperguruannya telah mengambil jatah kitab berbungkus kain hitam yang tergolek di meja. Kini hanya tersisa satu dan itu adalah jatahnya. Dengan tangan bergetar, dia mengambil kitab itu lalu menangkupkan di dada. Tidak ada di antara mereka yang membuka kain hitam pembungkus kitab. Perhatian mereka kini terpusat pada Mahaguru yang tengah sekarat di pembaringan. Di sela kedatangan ajal yang tak tertunda, Mahaguru berwasiat dengan ucapan tersendat, “Kitab itu sejatinya adalah jodoh kalian. Kalian telah disuratkan untuk menjadi tuan atasnya dan memiliki ilmu yang ada di dalamnya. Kalian harus kuat karena kitab itu akan selalu melawan, menunjukkan berbagai jalan yang tidak selalu berujung kebaikan.” (more…)