Archive for the ‘Gunawan Budi Susanto’ Category

Wagimin Tikus
September 4, 2016


Cerpen Gunawan Budi Susanto (Suara Merdeka, 04 September 2016)

Wagimin Tikus ilustrasi Suara Merdeka

Wagimin Tikus ilustrasi Suara Merdeka

Di Gebyog, kampung tempat tinggal saya 12 tahun terakhir ini, saya adalah pendatang. Dan, sialan, agaknya sampai kapan pun, sekalipun bakal tinggal sampai mati di kampung ini, saya tetap dianggap dan diperlakukan sebagai pendatang. Tentu saja saya merasa berhak tersinggung. Ya, siapa mau dianggap dan diperlakukan terus-menerus sebagai pendatang, meski sudah tinggal berbelas tahun? Bahkan berniat tinggal sampai maut menjemput.

Bagi saya, rata-rata warga asli—begitulah mereka menyebut diri mereka—kampungan dan sungguh tak terpelajar. Apalagi kebanyakan mereka cuma lulusan sekolah dasar. Kalaupun ada satu-dua lulusan perguruan tinggi, sikap dan cara berpikir mereka pun setali tiga uang. Sama saja, kampungan dan tak terpelajar.

Sialan! (more…)

Advertisements

Ibu Terus-menerus Bungkam
July 21, 2013


Cerpen Gunawan Budi Susanto (Suara Merdeka, 21 Juli 2013)

Ibu Terus-menerus Bungkam ilustrasi -

IBU bungkam. Selalu bungkam setiap kali aku bertanya tentang berbagai peristiwa dalam perjalanan hidupnya antara tahun 1960-an dan pertengahan 1970-an. Ibu bisa bercerita secara runtut dan detail peristiwa-peristiwa masa lalu, jauh sebelum menikah. Namun tak sekecap pun, tak sehuruf pun, dia ucapkan atau dia tulis mengenai rentang waktu 1960-an sampai pertengahan 1970-an. Masa itu kosong, bolong, melompong.

Padahal, justru itulah masa paling genting dalam kehidupan kami sekeluarga. Itulah masa ketika kehidupan berputar sedemikian kencang, lalu tiba-tiba berhenti dan kami semua terpelanting, lalu terpuruk dalam ketidakberdayaan. Apalagi kemudian setiap orang menjauh, sejauh-jauhnya. Mereka bersikap seolah-olah tak pernah mengenal kami, seolah-olah tak pernah berhubungan dengan kami.  (more…)

Penjagal Itu Telah Mati
February 17, 2013


Cerpen Gunawan Budi Susanto (Suara Merdeka, 17 Februari 2013)

Penjagal Itu Telah Mati ilustrasi Toto

DIA mati. Kematian yang wajar. Kata orang, lantaran sakit menahun. Tetapi kabar kematian itu baru saya dengar setelah sekian lama. Kabar kematian yang diam-diam saya syukuri.

Betapa tidak? Dialah penjagal haus darah itu. Di tangannya, sapi-sapi bertumbangan di pejagalan. Tertebas goloknya. Namun, kemudian, di tangannya pula orang-orang bertumbangan di tepian hutan. Tertebas pedangnya. (more…)

Terserah Apa Kata Bagong
October 14, 2011


Cerpen Gunawan Budi Susanto (Suara Merdeka, 9 Oktober 2011)

BAGONG sakit. Kabar itu cepat sekali menyebar dari mulut ke mulut, dari satu SMS berbiak jadi ribuan. Orang-orang pun geger.

“Masa sih? Kukira dia seperti Firaun, yang mengaku tak pernah sakit, tak bisa sakit, dan terus-menerus bekerja. Bahkan ketika semua orang telah terlelap tidur,” ujar Gurun. (more…)

Nyanyian Penggali Kubur
October 30, 2010


Cerpen Gunawan Budi Susanto (Suara Merdeka, 24 Oktober 2010)

PENGGALI Kubur! Itu pekerjaannya dan itu pula yang kemudian menjadi namanya. Sudah 44 tahun dia bekerja. Setiap hari, setidaknya dia menggali satu liang kubur. Jadi selama 44 tahun, total jenderal dia sudah menggali 16.060 liang kubur. (more…)