Archive for the ‘Fandrik Ahmad’ Category

Tenung
January 25, 2015


Cerpen Fandrik Ahmad (Kompas, 25 Januari 2015)

Tenung ilustrasi Amelia Budiman

KABAR kematiannya menyebar sangat cepat, seperti angin yang berbuah badai dan merontokkan dedaunan. Barangkali kabar kematian tak secepat itu jika yang meninggal bukan si tukang tenung.

“Siapa yang meninggal?”

“Murtaep.”

“Murtaep tukang tenung itu?” (more…)

Advertisements

Solilokui Kemboja
November 30, 2014


Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 30 November 2014)

Solilokui Kemboja ilustrasi Rendra Purnama

Solilokui Kemboja ilustrasi Rendra Purnama

Putik kemboja mekar. Aromanya menggoda. Arini menemukan kesempurnaan pada putik itu. Sesekali ia memejamkan mata dan menghirup udara sedalam perasaannya. Taman kemboja di belakang rumah cukup nyaman menemani masa lapuk hidup di usia senja yang melelahkan.

Kerut di bibirnya bergerak samar. Tangannya lembut menyentuh dan mengusap daun-daun. Arini sudah berjanji pada dirinya, betapa ia tak akan bermimpi, karena bermimpi di usia senja hanya membuang percuma waktu yang tersisa. Bernonstalgia dengan kenangan lebih baik, desisnya. (more…)

Slerok
June 29, 2014


Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 29 Juni 2014)

Slerok ilustrasi Rendra Purnama

Slerok ilustrasi Rendra Purnama

Undangan dari Taris kudekap. Wewangian menguap dari kertas itu. Sungguh tak asing, aroma parfum yang hilang dan tercium secara tiba-tiba. Lebih dari setahun aroma tersebut hilang, namun membekas seperti kerak di kaki dermaga. Bersugesti.

Parfum itu manifestasi keindahan! Koarnya ketika kukritik aroma parfum itu. Kepalaku pening karena menurut penciuman, Taris berlebihan memakainya.

Lebih dari itu, feeling berbicara lain. Taris membentuk kepribadian baru dalam diri seorang yang tak suka aroma parfum atau barangkali dia tak lebih hanya seorang penjual yang menawarkan barang? Ya, Taris memiliki toko, La Tansa de Parfum namanya. Ah, perasaan kadang berlebihan. (more…)

Andeng Karawung
February 2, 2014


Cerpen Fandrik Ahmad (Suara Merdeka, 2 Februari 2014)

Andeng Karawung ilustrasi ....

KABAR itu tersiar cepat, seperti sambaran petir. Bergemuruh dari telinga ke telinga. Sebagian orang merasa selempangan. Sebagian yang lain menganggap peristiwa itu cuma gejala alam biasa. Kabar yang menjadi silang selisih terjadi pada suatu pagi setelah malam harinya hujan turun dengan sangat deras.

Desas-desus memburai saat puluhan pasang mata tengah menyaksikan retakan tanah yang amblas.  Memanjang hampir dua puluh meter dengan kedalaman hampir semeter. Retakan yang melempang di lereng bukit Karawung. Di kertas patok, tanah yang retak masih menjadi bagian dari sawah Juragan Kawi.  (more…)

Shalat
July 7, 2013


Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 7 Juli 2013)

Shalat ilustrasi Rendra Purnama

SEPULANG dari Tanah Suci, Haji Kamil kerap terlihat di masjid. Tak sulit mencarinya bila tidak ada di rumah. Cari saja di masjid, pasti ketemu!

Usai menyempurnakan rukun Islam, Haji Kamil tampak berbeda. Setiap azan berkumandang, ia sudah berada di masjid mendahului Sohib, takmir yang bertugas sebagai muzain. Kalau Sohib terlambat, Haji Kamil bisa menjadi muazin sehingga keberadaannya di masjid cukup meringankan pekerjaan muazin.  (more…)

Solat
April 7, 2013


Cerpen Fandrik Ahmad (Republika, 7 April 2013)

 

SEPULANG dari tanah suci, Haji Kamil kerap terlihat di Masjid. Tak sulit mencarinya bila tidak ada di rumah. Cari saja di masjid, pasti ketemu!

Usai menyempurnakan rukun Islam, Haji Kamil tampak berbeda. Setiap azan solat berkumandang, ia sudah berada masjid mendahului Sohib, takmir yang bertugas sebagai muadzin. Kalau Sohib terlambat, Haji Kamil bisa menjadi muazin sehingga keberadaannya di masjid cukup meringankan pekerjaan muazin. (more…)

Riwayat Langgar
April 7, 2013


Cerpen Fandrik Ahmad (Suara Merdeka, 7 April 2013)

Riwayat Langgar ilustrasi Toto

NAMANYA Siti. Bila fajar merekah, ia menuruni Bukit Payudan menuju sebuah sumber mata air di lereng bukit. Berbasahan dengan setumpuk pakaian yang larung di bawah pancuran, menunggu kucekan.

Di atas air menggenang, berguguran daun-daun kering. Alang-alang dan tanaman pakis tumbuh lebat di sekitar pancuran dan di sepanjang sisi selokan. Ikan-ikan kecil mengambang—yang melesat bilamana coba disentuh. Air beriak sepanjang selokan membentuk gugusan kristal. Lepas pandangan ke barat, Gua Payudan terpancang kokoh. (more…)