Archive for the ‘Faisal Oddang’ Category

Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau Pergi
October 16, 2016


Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 16 Oktober 2016)

sebelum-dan-setelah-perang-sebelum-dan-setelah-kau-pergi-ilustrasi-mangu-putra-kompas

Sebelum dan Setelah Perang, Sebelum dan Setelah Kau Pergi ilustrasi Mangu Putra/Kompas

 

PERANG yang baru saja selesai telah mengubah banyak hal kecuali cinta kita, Arung. Saya harus pergi. Makassar setelah Ventje Sumual menyerah dan Permesta dibubarkan, bukan lagi Makassar yang membuat leluhur saya datang sebagai pedagang kulit penyu, ratusan tahun yang lalu. Nyawa saya terancam, kau tahu itu. Dan cinta? Cinta tidak pernah cukup dijadikan alasan untuk bertahan. Karena itu saya memilih pergi. Ketika surat ini kau baca, barangkali saya sudah tiba di Tiongkok. Tidak usah khawatir, ada Hanafi yang membantu kepulangan saya. Surat ini saya tulis ketika dia tiba-tiba menghubungi untuk menjemput, demi keamanan, katanya. Aku meremas tanpa menyelesaikan surat itu, setelah menghela napas panjang, setelah gagal menahan air mata yang tiba-tiba jatuh. Dan, tentu saja, setelah menyesali semuanya. (more…)

Advertisements

Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku
March 19, 2016


Cerpen Faisal Oddang (Koran Tempo, 19-20 Maret 2016)

Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku ilustrasi Munzir Fadly

Jangan Tanyakan tentang Mereka yang Memotong Lidahku ilustrasi Munzir Fadly

“BAGAIMANA cara mereka memotong lidahmu?”

Bagaimana caranya kau tahu aku di sini? Setelah berpuluh tahun menghilang, kau muncul dengan pertanyaan yang memaksa air mataku jatuh lagi, memaksaku mengenang tahun enam-lima yang memerihkan itu, ketika aku dan kau keluar masuk hutan demi bertahan hidup. Demi pengabdian kepada Dewata sebagai bissu yang suci. Sial, kita diburu karena dianggap mengkhianati Tuhan. Bukankah Dewata juga Tuhan? Lantas, adakah yang lebih setia dari bissu? Lebih hina mana: berpaling dari Tuhan atau dari negara? Kau tentu tak mendengarku, Upe. Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi bicara, dan memang orang yang tidak punya lidah tidak bisa bicara, hanya bisa hidup dan menangis, kendati tidak sekali pun menyesali masa lalu. (more…)

Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon?
February 21, 2016


Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 21 Februari 2016)

Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon ilustrasi Claudia Clara

Mengapa Mereka Berdoa kepada Pohon ilustrasi Claudia Clara

Aku tumbuh menjadi pohon. Orang-orang di kampung kami akan tetap percaya bahkan jika harus didebat hingga mulut berbusa. Mereka mulai memercayainya sejak tahun 1947. Kini, pohon asam itu sudah besar dan semakin tua. Kira-kira dapat diukur dengan lima orang dewasa melingkarkan lengan untuk mampu memeluk batangnya. Hampir setiap hari orang merubut di sana mengucapkan doa yang rupa-rupa jenisnya lantas mengikatkan kain rupa-rupa warnanya dan berjanji membuka ikatan itu setelah doa mereka terkabul. Jadi jangan heran ketika di ranting, dahan, batang, atau tidak berlebihan jika kukatakan hampir semua bagian pohon penuh ikatan kain. Ada banyak doa di sana. Demi menjaga tubuhku, ada pagar beton sedada manusia, berwarna hijau lumut, mengelilingi batang pohon. Para pedoalah yang membangunnya. (more…)

Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu
June 28, 2015


Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 28 Juni 2015)

Orang-Orang dari Selatan Harus Mati Malam Itu ilustrasi Nandanggawe

Kami dipaksa menganut agama resmi, mencantumkannya di KTP, dan dipaksa menjauhi Tuhan kami— Dewata Sewwae, tentu kami tidak berdaya lantas harus menerimanya dengan dada lapang yang perih. Jumat, pada akhir tahun enam puluhan, pada siang yang hujan, segerombol tentara mendatangi Uwak—tetua yang dipercaya akan menyelamatkan orang Tolotang saat hidup dan setelah mati. Aku bergegas menuju bilik.

“UWAK harus memilih, atau hak sebagai warga negara tidak kalian dapatkan, bisa saja diusir, bisa saja ada yang bertindak di luar kendali, Uwak sudah tahu sendiri, bukan, apa yang akan terjadi?” (more…)

Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon
May 4, 2014


Cerpen Faisal Oddang (Kompas, 4 Mei 2014)
Di Tubuh Tarra, Dalam Rahim Pohon

DI PASSILIRAN2 ini, kendati begitu ringkih, tubuh Indo3 tidak pernah menolak memeluk anak-anaknya. Di sini, di dalam tubuhnya—bertahun-tahun kami menyusu getah. Menghela usia yang tak lama. Perlahan membiarkan tubuh kami lumat oleh waktu—menyatu dengan tubuh Indo. Lalu kami akan berganti menjadi ibu—makam bagi bayi-bayi yang meninggal di Toraja. Bayi yang belum tumbuh giginya. Sebelum akhirnya kami ke surga.

Beberapa hari yang lalu, kau meninggal—entah sebab apa. Kulihat kerabatmu menegakkan eran4 di tubuh Indo untuk mereka panjati. Sudah kuduga, kau keturunan tokapua5, makammu harus diletakkan di tempat tinggi. Padahal kau, aku, dan anak-anak Indo yang lain, kelak di surga yang sama.  (more…)