Archive for the ‘Eka Maryono’ Category

Sayap Malaikat
December 16, 2012


Cerpen Eka Maryono (Republika, 16 Desember 2012)

Sayap Malaikat ilustrasi Rendra Purnama

BENJOLAN itu tumbuh begitu saja. Mulanya hanya dua benjolan kecil sebesar kelereng. Aku mengiranya sebagai tumor. Sedang menurut dokter, benjolan itu gumpalan lemak yang menonjol di bawah kulit. Sehabis dioperasi, hilanglah keduanya. Namun tak sampai sebulan, benjolan pengganggu itu muncul lagi, malah lebih besar, sebesar bola tenis. (more…)

Advertisements

Nosferatu
October 30, 2012


Cerpen Eka Maryono (Koran Tempo, 14 Oktober 2012)

Berikan aku cahaya, katanya, sesuatu yang dapat membantuku melihat kebenaran.

SEJAK cahaya menghilang dari desa kami, dia selalu meminta cahaya. Jadi aku kisahkan padanya tentang Blind Snakes, ular yang menyerupai cacing tanah panjang. Mereka hidup di liang bawah tanah, dan tidak dapat menggunakan matanya yang sangat kecil untuk melihat, tapi mereka bisa merasa apa yang ada di sekelilingnya. “Kita harus seperti ular itu,” kataku. Dia membantah. Katanya, “Blind Snakes tidak dapat melihat karena memang buta. Sedang kita punya mata yang dapat melihat. Hanya saja tidak ada cahaya.” (more…)

Kakek dan Peti Mati
August 14, 2012


Cerpen Eka Maryono (Koran Tempo, 12 Agustus 2012)

“KAKEK, saya bantuin, ya?”

“Ya, ya, bersihkan yang di ujung sana.”

Kakek tertawa dan mengelus-elus rambut saya. Saya berlari ke ujung yang lain, lalu mulai mengelap peti mati buatan kakek.

Begitulah, kakek adalah pembuat peti mati satu-satunya di desa kami, tapi kakek hanya membuatnya setelah musim tani usai. Dalam satu tahun hanya satu peti mati yang ia hasilkan. Ya, satu tahun untuk satu peti mati. (more…)

Otak yang Hilang
July 16, 2012


Cerpen Eka Maryono (Republika, 8 Juli 2012)

SEORANG laki-laki tiba-tiba masuk ke kantor polisi.

“Lapor, Pak, otak saya hilang.”

“Hah? Jangan bercanda, Saudara!”

“Sungguh, Pak, otak saya hilang!”

Kok bisa-bisanya otak Saudara hilang? Saudara jangan main-main ah!” (more…)

Batu
July 15, 2011


Cerpen Eka Maryono (Republika, 10 Juli 2011)

SEBUAH batu besar tiba-tiba muncul di tengah sawah. Sekilas, batu ini nampak biasa saja dan mirip batu-batu di perbukitan. Namun, karena kemunculannya yang mendadak, warga jadi heboh dan percaya batu itu adalah batu ajaib. (more…)

Emak
May 2, 2011


Cerpen Eka Maryono (Jawa Pos, 1 Mei 2011)

DIA nenek saya. Tubuhnya kurus hingga ada cekungan di pipi keriputnya. Sifatnya sangat tertutup. Dia senang mengurung diri dalam kamarnya yang pengap. Sejak kecil saya memanggilnya emak. Sekarang emak terbaring dalam peti mati murah yang dihias sedemikian rupa agar terkesan bagus, ditonton puluhan pelayat yang beberapa di antaranya memaksakan diri agar terlihat sedih, dan sebentar lagi emak bakal dikurung dalam sebuah kotak yang bahkan lebih pengap ketimbang kamarnya.  (more…)