Archive for the ‘Dinar Rahayu’ Category

Dua Malam di Kota Kata-Kata
July 31, 2016


Cerpen Dinar Rahayu (Media Indonesia, 31 Juli 2016)

Dua Malam di Kota Kata-Kata ilustrasi Pata Areadi

Dua Malam di Kota Kata-Kata ilustrasi Pata Areadi

“HIDUP ini perih,” sapanya sambil menciumku. Usianya empat puluh sekian dan sudah malang melintang di dunia pertunjukan. Selalu girang, walau kacamatanya baru diganti dari kacamata minus ke lensa progresif. Perutnya agak maju, tapi masih bisa tertutup kaus overall hitam. Celana juga hitam.

“Tapi kolorku biru,” begitu ia bilang kalau tatapanku sudah tampak menggambarkan sesuatu. Aku kenal cukup lama dan ia sudah tahu pasti kalau mataku sedang membentuk karakter demi tulisanku berikutnya. Secara keseluruhan dirinya adalah kebalikan dari diriku. Di atas kepalaku hujan dan petir sering turun bertubi-tubi dan dirinya adalah pelangi dan matahari. (more…)

Cerita Cinta dari Galaksi Sebelah
January 24, 2016


Cerpen Dinar Rahayu (Media Indonesia, 24 Januari 2016)

Cerita Cinta dari Galaksi Sebelah ilustrasi Pata Areadi

Cerita Cinta dari Galaksi Sebelah ilustrasi Pata Areadi

SEPERTI mimpi buruk yang masih berlangsung walaupun seseorang sudah terjaga, barangkali seperti itulah rasanya melakukan perjalanan dengan Mesin Pelipat Ruang dan Waktu. Cempasuchitl terbangun dengan mimpi buruk yang masih tergantung di kepalanya ketika pintu mesin melontarkan dirinya keluar seperti katup WC yang terlalu banyak menampung kotoran dan akhirnya mbludak. Penjaga sigap menangkap tubuh Cempasuchitl bersama air dan lendir-lendir yang terbentuk sebagai efek samping perjalanan. (more…)

Maharet
March 23, 2014


Cerpen Dinar Rahayu (Koran Tempo, 23 Maret 2014)

Maharet ilustrasi Munzir Fadly

DI KAWASAN awan Kerberus, Ganesha tersungkur. Bentuknya yang seperti donat raksasa itu seolah tercabik-cabik tangan raksasa hanya untuk kepuasan belaka. Ia benar-benar seperti Dewa Ganesha yang berkorban untuk secarik tulisan ilmu pengetahuan. Menurut mitologi, dewa berwajah gajah itu memotong satu gadingnya untuk dipakainya sebagai pena untuk menuliskan sejarah ilmu pengetahuan. Ganesha sang gajah tersungkur seperti raksasa yang jatuh berdebam dan kemudian terburai-burai. Muatannya sudah kosong: berbagai spesimen dari planet-planet yang tersebar di gugusan bintang yang sudah dipetakan ataupun yang belum, bahan penelitian tentang obat sampai mesin pembunuh biologis. 

(more…)

Nogoroth
November 28, 2010


Cerpen Dinar Rahayu (Suara Merdeka, 28 November 2010)

AKU masih teringat pada ilustrasi di sebuah buku yang menggambarkan ujung pelangi adalah segentong emas permata. Dalam gambar itu ada tujuh garis melengkung dan di satu ujung ada seorang perempuan yang meniti pelangi itu dan di ujung lain ada segentong emas permata. Matahari bersinar cerah di atas kepala perempuan itu dan bumi di bawah sana dengan garis-garis pulau dan awan. Sebuah gambar yang ceria. (more…)