Archive for the ‘Dewi Ria Utari’ Category

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua
June 26, 2016


Cerita ini adalah karya kolaboratif dari Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani (Kompas, 26 Juni 2016)

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Tohari, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Di pengujung usia senjanya sebagai pengarang, baru kali ini ia merasa diperhatikan. Ia akan mendapatkan hadiah Rp 100 juta. Astagfirullah, itu uang yang tak pernah dibayangkan, bila mengingat selama ini ia hanya mendapat puluhan ribu dari honor tulisannya. Memang sesekali ia mendapat uang sekian juta bila diundang di acara pemerintah, tapi itu pun sudah dipotong sana-sini, dan ia hanya menandatangani kuitansi kosong. Sekarang Rp 100 juta! Tumben pemerintah memberi hadiah sebanyak itu.

Masih dalam kekagetan yang teramat sangat, Tohari mulai merancang-rancang akan dikemanakan uang sebanyak itu. Ia sedang berpikir untuk menggunakan sedikit uang tersebut untuk belanja online? Siapa tahu? Baru minggu lalu, cucunya memperlihatkan Instagram belanja online yang penuh dengan barang-barang baru menggiurkan mata yang tak pernah dilihatnya. (more…)

Sepetak Mawar Kuning di Halaman Belakang
May 29, 2016


Cerpen Dewi Ria Utari (Kompas, 29 Mei 2016)

Sepetak Mawar Kuning di Halaman Belakang ilustrasi Almira Ginting

Sepetak Mawar Kuning di Halaman Belakang ilustrasi Almira Ginting

Serupa mimpi, kenangan itu seperti tak nyata dalam ingatannya. Bahkan seringkali ia ragu apakah pernah mengalami kenangan itu atau itu sekadar halusinasi. Samar-samar ia mengingat aroma sore itu. Bau rumput basah yang muncul karena ia baru saja menyiraminya dengan ngawur. Lebih tepatnya, bau basah ini diciptakannya sendiri karena ia bermain-main air dengan selang yang menjulur panjang dari keran yang dipasang di bawah pohon sawo kecik.

Dengan bersemangat, ia memutar keran hingga putarannya terhenti dan dengan segera air mengucur deras dari saluran itu. Setengah berlari, ia memegang bagian ujung selang, berlari ke sana kemari, menyiramkan air yang mengucur itu ke rerumputan, semak-semak dan perdu krokot, sirih, srigading, geranium, dahlia, petunia, dan mawar kuning yang menjadi favorit ibunya yang sore itu duduk menyelonjorkan kaki di kursi pantai lipat yang dibentangkan di antara semak mawar kuning dan pohon cemara Norfolk. (more…)

Angin Kita
December 30, 2012


Cerpen Dewi Ria Utari (Kompas, 30 Desember 2012)

Angin Kita ilustrasi Moelyono

KAU bercerita tentang Angin pertama kali saat aku berusia 18 tahun. Kau 19 tahun. Cerita itu kau tuturkan setelah kita lulus SMA. Sebelum kita berpisah.

“Aku ingin menjadi Angin,” katamu sambil menyeruput es kelapa di belakang sekolah.

“Kenapa?” (more…)

Terbukalah
August 11, 2011


Cerpen Dewi Ria Utari (Kompas, 7 Agustus 2011)

DALAM diam aku duduk di taman ini. Di kursi yang sama tempat kencan kita pertama. Saat itu aku memakai celana jins berwarna abu-abu pudar, dan kaus berlengan panjang warna putih. Kau, waktu itu mengenakan celana jins biru tua dengan kaus berlengan pendek warna abu-abu. Kita duduk bersisian, saling bergenggaman tangan. Perlahan, kusandarkan kepalaku di bahu kirimu. Pandangan kita sama, mengarah ke depan ke beberapa remaja yang sedang bermain basket. Perlahan kau menundukkan kepalamu dan mengecup kuat keningku. Dan mengalirlah cerita tentang keluargamu. (more…)

Ibu Pulang
January 4, 2011


Cerpen Dewi Ria Utari (Kompas, 2 Januari 2011)

KRINGG!! Itu dering telepon kedelapan. Aku tahu pasti siapa peneleponnya. Nenek.

Dia masih saja berusaha membujukku untuk pulang. Padahal jelas-jelas aku sudah mengatakan kepadanya kemarin bahwa Natal tahun ini aku tak pulang. Ya. Pulang. Rumah Nenek adalah rumah untuk pulang. Aku dibesarkan olehnya. Juga oleh ayahku. Tapi tidak oleh ibuku. (more…)