Archive for the ‘Dewi Kharisma Michellia’ Category

Hidup Kita selepas Elegi
December 18, 2016


Cerpen Dewi Kharisma Michellia (Media Indonesia, 18 Desember 2016)

Hidup Kita selepas Elegi ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg

Hidup Kita selepas Elegi ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

GIGI-GIGI mereka belum sepenuhnya rontok ketika maut memanggil tepat pada pergantian tahun. Pada akhirnya, di rumah para lansia itu—aku tak sampai hati menyebutnya panti jompo—orangtua kita melihat nenek dan kakek bertahan hidup demikian lama dengan romansa yang mengejutkan. Duduk di atas kursi roda yang bersebelahan, kakek-nenek kita memejamkan mata untuk selamanya. Siapa pun tak akan paham bagaimana bisa hal itu terjadi, sepasang suami-istri meninggal pada detik yang sama secara alamiah. (more…)

Advertisements

Forum Keluarga
September 24, 2016


Cerpen Dewi Kharisma Michellia (Koran Tempo, 24-25 September 2016)

forum-kekeluargaan-ilustrasi-munzir-fadly

Forum Keluarga ilustrasi Munzir Fadly

BILA kau membaca tulisan ini, perlu kau ketahui bahwa ini adalah isi kepalaku yang terekam secara otomatis ke dalam bentuk tulisan ketika aku menyentuh logam di tanganku. Ini adalah teknologi kuno di zamanku, tapi di zamanmu mungkin saja berbeda, maka kupikir perlu dijelaskan. Logam ini kuperoleh dari orang tuaku pada kelahiranku yang kedua. Saat itu umurku seratus dua puluh tahun. Selain merekam, logam ini bisa menganalisis isi pikiranku dan secara otomatis menerjemahkan sandi keluarga kami ke dalam bahasa Indonesia.

Serangkaian kejadian menjadi alasan mengapa aku perlu merekam pikiranku saat ini dan menyampaikan ini kepadamu. Dunia sedang bergejolak hebat. Tubuh-tubuh meledak dalam berita televisi yang disiarkan langsung dari lokasi kejadian. Dan penyiar televisi yang menyiarkan kejadian itu sekejap, kemudian lenyap. Sebagian penduduk di suatu negara mati karena epidemi. Dataran itu ditinggalkan penghuninya dan mereka lebih memilih mengapung-ngapungkan diri di perairan. (more…)

Keputusan Ely
August 3, 2014


Cerpen Dewi Kharisma Michellia (Media Indonesia, 3 Agustus 2014)

Keputusan Ely ilustrasi Seno

ELY mengemas semua yang tak bisa ditinggalnya. Bahkan suara burung-burung di pohon akasia yang berkicau sepanjang hari sudah dia masukkan ke dalam toples. Dengan secongkel cat warna merah jambu dari ayunan di taman belakang rumah, dan cacing-cacing pada tanah gembur dari taman ayahnya.

Saat meninggalkan ayah Ely, ibunya hanya berkata maaf. Ayah Ely di kursi roda tak menyahuti. Ia hanya dapat menatap mata istrinya. Melihat itu, Ely ingin menghamburkan tubuh ke pangkuan ayahnya. Namun, kakak Ely sudah berdiri di belakang kursi roda. Hanya menggelengkan kepala, lantas mengangkat dagu mengusir Ely. (more…)

Ajal
June 9, 2013


Cerpen Dewi Kharisma Michellia (Media Indonesia, 9 Juni 2013)

Ajal ilustrasi Pata Areadi

PRIA itu meninggal dua tahun lalu. Menjelang hari kematiannya, saat terbangun dari tidur, ia menggigit lidahnya hingga putus. Dibiarkannya lidah itu mengering di seprai. Namun, perlu ditegaskan, ia meninggal bukan karena lidahnya putus. Sebab, pagi itu ia masih dapat beranjak ke kamar mandi, becermin, dan menyeringai lebar ke arah mukanya sendiri. Ia tak ambil pusing dengan bibirnya yang merah oleh darah.

Hari itu rumahnya sepi. Keluarganya sedang pergi dan menginap di sebuah vila, jauh di wilayah pegunungan. Ia membuka keran air untuk mengisi bak mandi, lantas pergi ke dapur, dan di sana ia menyiapkan sarapan telur ceplok tanpa garam. Juga kopi luwak tanpa gula.  (more…)

Ziarah
November 5, 2012


Cerpen Dewi Kharisma Michellia (Jawa Pos, 21 Oktober 2012)

21 APRIL 1978.

BEGITU tertera pada dua kayu nisan yang tertancap di puncak bukit pagi itu. Dengan cuaca yang sama, dua puluh tahun lalu, aku ingat betul, aku hampir tak mengenali separuh orang yang berdiri mengelilingiku di bawah payung-payung gelap mereka. (more…)

Rindu
August 6, 2012


Cerpen Dewi Kharisma Michellia (Koran Tempo, 29 Juli 2012)

MALAM di musim pengujan itu ia kembali mengetuk pintu. Aku menghampirinya sebagaimana biasa, membukakan pintu untuknya, menyambutnya dengan senyuman. Ia seperti biasa, terjatuh di lantai, muntah. (more…)

Pantai Cermin
June 27, 2011


Cerpen Dewi Kharisma Michellia (Koran Tempo, 19 Juni 2011)

“PAK, sudah ketemu kuncinya?”

Saya sering mendengar orang-orang yang bersyukur atas hidupnya berkata bahwa setiap hari dalam hidup ini memberikan anugerah tersendiri.

“Nak, masukkan koper-koper ini ke dalam mobil. Aduh, kenapa mesti disuruh-suruh? Mana adikmu?”

Jika orang-orang itu mengagumi betapa misterius waktu, maka semestinya mereka juga begitu terhadap ruang. (more…)