Archive for the ‘Desi Puspitasari’ Category

Kambing Sebbal
September 11, 2016


Cerpen Desi Puspitasari (Media Indonesia, 11 September 2016)

kambing-sebbal-ilustrasi-pata-areadi

Kambing Sebbal ilustrasi Pata Areadi

APABILA aku berubah menjadi kambing, lalu dikorbankan saat Idul Adha, akankah itu bisa menjadi kendaraan ibu pergi ke surga?

Angan-angan itu terus berkecamuk dalam pikiran Sebbal, laki-laki dewasa yang terperangkap dalam tubuh dan kapasitas otak yang tak lebih baik dari seekor kerbau.

“Tentu saja bisa,” sambut Pak Baonk. Kala itu mereka sedang berada di pos ronda.

“Bagaimana bisa, Pak?” sahut Sebbal terheran-heran.

“Kalau kau membaca karya Franz Kafka, diceritakan Gregor Samsa, si tokoh utama, berubah menjadi kecoak,” Pak Baonk melanjutkan penjelasannya. “Kau ingin berubah menjadi kecoak?” (more…)

Gembok
February 1, 2015


Cerpen Desi Puspitasari (Media Indonesia, 1 Februari 2015)

Gembok ilustrasi Pata Areadi

“FRAU Wiechert?”

“Ja.”

Wiechert terjaga karena suara berisik. Suara langkah kaki tergesa menaiki tangga. Pintu dibuka, pertanyaan-pertanyaan, tetangga sebelah banyak bicara dengan setengah menangis. Perkataannya tidak jelas sehingga polisi mengulang jawaban untuk memastikan kebenaran. Wiechert menggeram, bangkit dari tidur, tersaruk meraih sisa kopi semalam. Ia memperhatikan pekerjaan yang belum rampung. Mesin ketik dengan sehelai kertas berisi separuh tulisan teronggok diam. Semalam otaknya mampat dan punggungnya yang terlalu letih butuh istirahat. (more…)

Skarf
September 1, 2012


Cerpen Desi Puspitasari (Koran Tempo, 26 Agustus 2012)

SILVIE masuk dan meletakkan tas dengan wajah muram. Ia melepas jaket dan melipatnya menjadi semacam buntalan lalu menyoroknya masuk ke dalam almari. Ia mengganti sepatu kets dengan sepatu bertumit lima senti. Matanya melirik ke arah jam dinding. Lima belas menit lagi pukul tiga sore. Ia membetulkan sekali lagi kemeja dan rok spannya. Memeriksa riasan di wajah. Ketika membubuhkan beberapa tepuk bedak di wajah, ia melihat seseorang dari cermin kotak bedak. Ia menoleh. “Mau apa kau?” (more…)

CLOS E
March 6, 2012


Cerpen Desi Puspitasari (Koran Tempo, 4 Maret 2012)

ADA sebuah bar kecil di ujung jalan. Berdiri sudah sejak lama. Tanpa nama. Hanya sebuah papan tipis tergantung menempel di pintu kacanya sebagai tanda. Kalau beruntung, Anda bisa bertemu anak perempuan pemilik bar. Saat senggang atau libur kuliah ia suka datang membantu. Dan ia terkenal karena ceritanya yang menarik. (more…)

Heute Herbst
November 21, 2011


Cerpen Desi Puspitasari (Koran Tempo, 20 November 2011)

BEL yang digantung di pintu berkelinting.

“Menjelang musim dingin yang beku!”

Katja Heinenmann menaikkan kacamata tuanya. Ia melihat Klaus, salah satu profesor tua sekaligus pelanggannya yang setia, melepas mantel. Laki-laki itu baru pulang dari kampus tempatnya mengajar. (more…)

Ayahmu Mati
October 17, 2011


Cerpen Desi Puspitasari (Jawa Pos, 16 Oktober 2011)

AKU sedang merencanakan pembunuhan terhadap ayahku. Laki-laki itu baru saja berteriak padaku—dan aku balas berteriak padanya. Tidak ada yang salah menurutku, bagian berteriak. Seperti hukum fisika—ada aksi, akan ada reaksi bukan? Aku adalah seorang manusia, punya hati, punya perasaan, dan punya luka. (more…)