Archive for the ‘Dea Anugrah’ Category

Kisah dan Pedoman
May 15, 2016


Cerpen Dea Anugrah (Media Indonesia, 15 Mei 2016)

Kisah dan Pedoman ilustrasi Pata Areadi

Kisah dan Pedoman ilustrasi Pata Areadi

IA mendengar kisah itu dari seorang pedagang karpet. Empat belas tahun sebelum ia mengubahnya menjadi pedoman. Si pedagang, dalam perjalanan wisata menuju suatu tempat di Suriah, singgah di dusun tempat dia tinggal untuk membeli kismis dan beristirahat.

Ia sendiri, seorang pemuda malas dari trah terhormat. Pada masa itu dikenal di lingkungannya terutama sebagai inang dua penyakit, yaitu epilepsi dan impian muluk. Yang pertama sesekali membikinnya kejang-kejang dan yang belakangan membuatnya gemar mendekati para pengunjung kedai, khususnya para musafir, untuk berbual-bual dengan mereka. Andaikata pada waktu itu seseorang, atau demi unsur dramatis, si pedagang karpet menyadari kaitan di antara kedua penyakit tersebut, serta bahaya yang terkandung di dalamnya, boleh jadi keonaran yang kelak akan melindas amat banyak kehidupan dan memisahkan anak-anak dari orangtua mereka, dan mengacaukan bisnis di kawasan itu—dan di luar jangkauan mimpi buruk semua orang, menjadi pemantik kerepotan besar yang jauh lebih awet ketimbang usia pemuda itu sendiri—dapat dicegah seluruhnya. (more…)

Advertisements

Kisah Sedih Kontemporer
December 7, 2014


Cerpen Dea Anugrah (Media Indonesia, 7 Desember 2014)

Kisah Sedih Kontemporer ilustrasi Pata Areadi

SEPERSEKIAN detik setelah terjaga, Rik berusaha menggerakkan lengan kirinya, menekuk siku, dan menghadapkan telapak tangannya ke wajah. Tentu saja ia mengerti, dalam keadaan bangun tidur, koordinasi antara kelenjar pengatur kesadaran pada otak dan pos-pos tubuh yang lain tidaklah sebagaimana diterangkan guru biologi di sekolah menengahnya dulu. Otot-ototnya bergerak jauh lebih lamban dari yang semestinya. Perintah-perintah dari otak bergerak perlahan dalam jaringan saraf, seperti tikus utuh dalam tubuh seekor ular, seperti gumpalan lemak kekuning-kuningan dalam pembuluh darah. (more…)

Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada
May 4, 2014


Cerpen Dea Anugrah (Koran Tempo, 4 Mei 2014)

Sebuah Cerita Sedih, Gempa Waktu, dan Omong Kosong yang Harus Ada ilustrasi Munzir Fadly

HALO, di mana?”

Kau menerima panggilan di ponselmu dan memulai percakapan dengan suara berat. Sangat berat.

”Heh, kalau kuusir dari rumah, tanggung sendiri risikonya!“

”Ya, di mana? Kamu sekarang di mana?“

Barangkali telepon itu dari istri atau kekasihmu yang kau ajak tinggal serumah. Dan saat ini jelas sedang ada masalah. Tapi sepertinya bukan soal baru. Dari caramu bicara, terasa ada kejengahan yang nyaris meledak.

”Kok nggak jawab?”  (more…)