Archive for the ‘Damhuri Muhammad’ Category

Nelayan yang Malas Melepas Jala
November 6, 2016


Cerpen Damhuri Muhammad (Kompas, 06 November 2016)

nelayan-yang-malas-melepas-jala-ilustrasi-amelia-budiman-kompas

Nelayan yang Malas Melepas Jala ilustrasi Amelia Budiman/Kompas

Bagaimana sebaiknya kau mengumpamakan persekutuan dua manusia yang sama-sama meringkuk di lubuk asmara, tapi tak mungkin hidup bersama? Seorang penasihat hubungan percintaan spesialis usia setengah tua (es-te-we) pernah menyarankan; andaikan kau dan kekasih gelapmu sedang dilanda kegemaran mencari kesenyapan di sebuah pulau asing, atau sebut saja pulau tak bernama. Tapi kalian hanya boleh berada di sana sepanjang petang! Sebelum malam sempurna kelam, kalian sudah harus berlayar kembali ke pulau masing-masing. Kau pulang ke pangkuan suamimu. Kekasih gelapmu kembali menunaikan tugas mengurus keluarganya.  (more…)

Prahara Meja Makan
June 28, 2015


Cerpen Damhuri Muhammad (Jawa Pos, 28 Juni 2015)

Prahara Meja Makan ilustrasi Jawa Pos

SUDAH lama Buyung memendam hasrat hendak melihat mobil sedan. Maklum, kampungnya amat udik. Jalannya nyaris belum pernah dilintasi sedan. Bila ada mobil yang melintas, itu hanya truk rongsok pengangkut kayu bakar yang datang Senin dan Kamis, dengan suara mesin serupa erangan pengidap sesak napas paling parah. (more…)

Lembar Sastra dalam Rimba Raya Cerita
December 28, 2014


Oleh Damhuri Muhammad (Media Indonesia, 28 Desember 2014)

Lembar Sastra dalam Rimba Raya Cerita ilustrasi Media Indonesia

BILA tuan penyuka cerita, tuan tak perlu repot pergi ke toko buku, mengobrak-abrik rak buku fiksi guna menemukan jenis cerita yang sesuai selera. Di era Facebook dan Twitter, keseharian kita sudah bergelimang cerita. Di mana pun tuan berada—sedang bersantai di rumah, menunggu pacar di restoran cepat saji, di sela jadwal rapat yang padat, atau sekadar mengisi waktu dalam kalutnya kemacetan di Jakarta—tuan leluasa menyantap rupa-rupa cerita. Tuan tiada bakal kekurangan stok cerita. Sebab, ia melimpah ruah dan beralih rupa dalam waktu tak terduga. Tuntas satu cerita, tiba cerita baru yang lebih dahsyat, hingga dalam beban persoalan yang kian berat, kita sedikit terhibur, atau mungkin terpesona dibuatnya. (more…)

Rumah Amplop
May 19, 2013


Cerpen Damhuri Muhammad (Jawa Pos, 19 Mei 2013)

Rumah Amplop ilustrasi ...

DI masa kanak-kanak, rumah kami selalu kebanjiran amplop. Ruang tamu, laci-laci ruang kerja papa, lemari pakaian mama, hingga rak-rak dapur, penuh-sesak oleh amplop dari berbagai rupa, warna, dan ukuran. Setelah mama dan papa mengamankan isi dari amplop-amplop yang berserakan itu, kami akan melepaskan lipatan-lipatan kertasnya, lalu mengguntingnya sesuai pola-pola yang kami sukai. Dari potongan-potongan kertas bekas amplop itu kami gemar membentuk huruf-huruf, yang kemudian tersusun sebagai R-E-I-N-A (mama), S-U-K-R-A (papa), dan  nama-nama kami sendiri; Abim, Amru, dan Nuera. Sepulang sekolah, sepanjang hari, kami asik menggunting-gunting kertas-kertas bekas amplop, hingga suatu hari kami bersepakat memberi nama tempat tinggal kami dengan “rumah amplop”. Rumah tempat beralamatnya amplop yang datang dari berbagai penjuru. Rumah yang makin bercahaya, seiring dengan makin berhamburannya amplop ke dalamnya.   (more…)

Luka Kecil di Jari Kelingking
January 6, 2013


Cerpen Damhuri Muhammad (Media Indonesia, 6 Januari 2013)

Luka Kecil di Jari Kelingking ilustrasi Media Indonesia

KABAR buruk itu tiba pada sebuah pagi selepas gerimis, saat ia sedang memotong kuku di beranda. Irisan silet majal di ujung jarinya meleset hingga menyayat daging kelingking dalam posisi miring. “Langkisau tertangkap. Tapi, bukan Langkisau namanya bila tak lihai meloloskan diri,” begitu pesan rahasia yang serapat-rapatnya telah ia simpan dalam ingatan, tapi masih terngiang-ngiang di telinganya. Lelehan darah yang hampir mencapai telapak tangan belum sempat ia seka. Sapu tangan usang ternyata lebih dahulu menyapu linangan air mata di pipi pucatnya. Tangis yang tak semestinya, kesedihan yang harus dilawan, risau hati yang tiada perlu dihiraukan. (more…)

Tembiluk
June 3, 2012


Cerpen Damhuri Muhammad (Kompas, 27 Mei 2012)

DI MASA silam, anjing itu tak lebih dari anjing biasa, milik seorang tuan yang sedang mendalami ilmu hitam.

Puncak kedigdayaan ilmu hitam itu adalah hidup abadi, alias tak bisa mati. Namun, setiap kaji-penghabisan tentulah membutuhkan pengujian, agar pencapaiannya benar-benar tak diragukan. Maka, pada suatu malam keramat, ia menggorok leher anjingnya hingga putus dari batang leher, dan kepala hewan itu menggelinding seperti buah mumbang jatuh dari pohon. Sebelum penyembelihan, ia memasang jimat di ekor anjingnya, disertai mantra gaib yang hanya bisa dilafalkan oleh pengikut jalan sesat seperti dirinya. Ia tidak bermaksud membunuh anjing kesayangannya, karena ia hanya sedang membuktikan kedahsyatan ilmu yang telah sempurna dikuasainya. (more…)