Archive for the ‘Dadang Ari Murtono’ Category

Meninggalkan Semut di Masjid
February 19, 2017


Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 19 Februari 2017)

meninggalkan-semut-di-masjid-ilustrasi-farid-s-madjid-suara-merdeka

Meninggalkan Semut di Masjid ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Hujan turun. Butiran-butiran air sebesar biji jagung menghajar genting dan ranting, pohon dan kebun, dan memaksa orang-orang menyembunyikan diri dalam rumah masing-masing. Angin buruk berembus. Tiang listrik di ujung gang bergoyang-goyang. Tiga dahan besar pohon trembesi di pinggir jalan patah dan melintang dari tepi ke tepi yang lain. Itulah salah satu sore terburuk sepanjang 1987. (more…)

Advertisements

Dari Iklan Koran Kuning
November 6, 2016


Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 06 November 2016)

dari-iklan-koran-kuning-ilustrasi-putut-wahyu-widodo-suara-merdeka

Dari Iklan Koran Kuning ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Aji sampai pada rakaat terakhir shalat duhanya ketika Jibi berteriak-teriak dari luar rumah mengabarkan bahwa salah satu kambing milik Aji yang dititiprawatkan kepadanya baru saja beranak. “Kambingnya tidak sakit. Kambingnya beranak manusia,” teriak Jibi. (more…)

Syekh Siti dan Gereja Blenduk
May 29, 2016


Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 29 Mei 2016)

Syekh Siti dan Gereja Blenduk ilustrasi Hery Purnomo

Namanya Syekh Siti dan sekali waktu dalam hidupku, aku yakin bahwa ia datang dari masa depan. Ia berkata bahwa ia berasal dari seekor cacing dan aku menjawab bahwa leluhurku diciptakan dari seonggok lempung.

“Apakah cacing bisa hidup dalam lempung?”

“Tentu saja. Cacing bahagia hidup dalam lempung,” tukasnya.

Aku berpikir ia seorang pembual. Ia bercerita bahwa ia tinggal Kauman, dan ia lahir jauh sebelum Ki Pandan Arang mendapat pencerahan serta membangun sebuah masjid di sana. “Aku menghormatinya sekali pun beliau jauh lebih muda daripada aku,” ujarnya. “Aku berumur panjang dan hanya orang tolol yang bahagia berumur panjang,” lanjutnya. (more…)

Hujan Gajah
February 27, 2016


Cerpen Dadang Ari Murtono (Koran Tempo, 27-28 Februari 2016)

Hujan Gajah ilustrasi Munzir Fadly

Hujan Gajah ilustrasi Munzir Fadly

PADA malam keempat puluh wafatnya Sakti, Jibi berjalan pulang dalam keadaan mabuk parah. Tiga kali ia terperosok ke dalam selokan, dan dua kali tersandung batu. Sampai di depan rumahnya, ia mendapati seekor gajah meringkuk di teras, tepat menghalangi pintu. Semabuk apa pun Jibi, ia terkejut juga. Dan begitu mengamati dengan seksama ukuran gajah itu, Jibi yakin bahwa yang teronggok di depannya hanyalah sebuah boneka gajah. Dan ketika apa yang dikiranya boneka itu bergerak-gerak, ia mengeluhkan efek arak yang terlalu keras. Jibi memanfaatkan sisa tenaganya untuk terus mengamati gajah itu. Dan sebelum memutuskan untuk membuka pintu, ia sudah jatuh dalam tidur. (more…)

Orang Alim dari Klampis
February 23, 2014


Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 23 Februari 2014)

Orang Alim dari Klampis ilustrasi Rendra Purnama

TIDAK ada alasan yang mendasari kepulangan terburu-buru Sakti kali ini selain untuk menemui Gus Malik, orang alim dari Klampis, dan menyampaikan pesan yang dititipkan sesosok makhluk bersayap pada malam Jumat kemarin, ini juga sesuai ia berwirid sepanjang Kamis. ”Gus, makhluk itu mengaku bernama Jibril. Dan ia mengatakan bahwa Gus sebenar-benarnya ahli neraka!” Sakti bercerita dengan mimik ketakutan. Tapi, ketakutan Sakti tak ada seujung kuku kegetiran Gus Malik. Wajah orang alim itu dengan segera berubah. Melebihi pucat pasi seonggok mayat. Badannya gemetar dan apa yang kemudian keluar dari mulutnya adalah kalimat samar yang terbata-bata.  (more…)

Kota Orang-orang Bisu
January 13, 2013


Cerpen Dadang Ari Murtono (Kompas, 13 Januari 2013)

Kota Orang-orang Bisu ilustrasi Citra Kemala

SIAPA pun pasti akan sulit percaya bila aku katakan bahwa saat ini aku sedang berada di sebuah kota yang tak ada dalam peta. Kota dengan penghuni yang bisu. Ya. Bisu. Semua penduduknya bisu.

Dan karena semua penduduknya bisu, maka mereka hanya saling tersenyum atau menganggukkan wajah bila berpapasan sebagai tanda menyapa. Mereka menunjuk barang apa saja yang ingin mereka beli di toko. Dan karena semua bisu, maka sebanyak apa pun penduduk kota itu, suasana tetap saja begitu hening. (more…)

Mengharap Kematian
May 3, 2012


Cerpen Dadang Ari Murtono (Republika, 22 April 2012)

BARANGKALI, semua orang ingin tahu kapan tepatnya mereka akan mati. Barangkali semua orang menginginkan hal yang baik dan indah pada hari kematiannya. Ya, ujung perjalanan yang baik. Kebaikan yang akan membawa mereka ke surga. Dan, itu pula alasan bagi lelaki itu berusaha demikian keras untuk mengetahui kapan pastinya ia akan mati. (more…)