Archive for the ‘Candra Malik’ Category

Kasidah
September 17, 2016


Cerpen Candra Malik (Koran Tempo, 17-18 September 2016)

kasidah-ilustrasi-imam-yunni

Kasidah ilustrasi Imam Yunni

BIBIRMU memberiku ciuman paling rumit dari sekian banyak pengalaman berkecupan. Dari mula, aku sudah curiga desismu melebihi angin lalu. Sekali pagutan denganmu, puisi yang telah kuracik dari bumbu perjalanan terbaik ini seketika enyah dari ingatan dan hanya kau yang tak bisa kulupa. Ah, aku jadi tahu mengapa Calzoem menenggak bir setiap senja.

“Kau jangan mulai main dengan perempuan itu,” tegur Calzoem.

“Tapi aku perlu kata paling tepat,” sergahku. (more…)

Advertisements

Brandal dan Pasukan Kodok
April 2, 2016


Cerpen Candra Malik (Koran Tempo, 02-03 April 2016)

Brandal dan Pasukan Kodok ilustrasi Munzir Fadly.jpg

Brandal dan Pasukan Kodok ilustrasi Munzir Fadly

 

BRANDAL menggulung bendera. Tak ada lagi kain hitam yang dikibarkan sejak ia kalah melawan seorang tua bernama Makdum. Bola-bola emas yang menjadi bola-bola api itu telah merajam dadanya. Brandal hangus oleh dosa-dosa, dan takluk menjadi satu-satunya pilihan untuk terbebas dari siksa berikutnya. Hanya dengan bertapa di kali, ia bisa diampuni.

Pendekar berdarah biru dan berikat kepala gelap yang kerap menutup separuh wajahnya dengan cadar itu memang berhasil merebut tongkat dari cengkeraman Makdum hingga kakek bersurban putih itu terjungkal. Alih-alih merampok habis, nyalinya justru dihabisi. Tercekat tenggorokannya ketika Brandal mendengar Makdum berurai airmata mengurai kata demi kata. (more…)

Mawar Hitam
March 30, 2014


Cerpen Candra Malik (Koran Tempo, 30 Maret 2014)

Mawar Hitam ilustrasi Munzir Fadly

ENGKAU adalah kata yang hendak diucapkan pensil yang, meski telah kuruncingkan, ternyata tak segera berani memilih aksara pertama. Namamulah yang pada mulanya akan kutulis, namun kita belum saling mengenal. Kau diam di sana, duduk dengan selembar kertas kosong dan sebatang pensil pula. Aku di sini. Dan, kita bernasib sama.

Pada akhirnya kugambar saja ruas senyum yang kaubenamkan di antara bibir indahmu yang cemberut. Layak kuduga kau menunggu seseorang. Seseorang yang sangat dekat, yang sanggup membuatmu gagal menulis menu. Kau menantinya pasti untuk bertanya, ”Jadi, kita pesan apa?“ Aku memesan secangkir kopi saja. Tanpa gula. Aku memang tak terlalu suka pemanis untuk hal-hal yang memang dikodratkan pahit.  (more…)

Gadis Kupu-Kupu
February 2, 2014


Cerpen Candra Malik (Kompas, 2 Februari 2014)

Gadis Kupu-Kupu ilustrasi Tatang BSP

SEHELAI daun jatuh dari setangkai mawar, disusul derai bulu-bulu bunga ilalang yang berguguran. Senja dan angin laut melepas rekah-rekah kulit semesta di garis cakrawala. Merah bata berubah warna, menggelap, lambat laun menggulita. Bintik-bintik di atas sana, bintang-gemintang itu, ah, tak ada yang disebut rasi kupu-kupu.

Langit tak lagi sebenderang ketika engkau datang. Masih di sini aku menantimu, memegang selembar kertas bergambar kupu-kupu. Engkau berjanji mewarnainya dengan pastel biru. ’Mana ada kupu-kupu bersayap biru?’ tanyaku. ’Ada! Kupu-kupu angkasa. Dia terbang sangat tinggi, menyatu dengan langit,’ jawabmu.  (more…)