Archive for the ‘Budi Darma’ Category

Tukang Cukur
September 11, 2016


Cerpen Budi Darma (Kompas, 11 September 2016)

tukang-cukur-ilustrasi-muhammad-fatchi

Tukang Cukur ilustrasi Muhammad Fatchi

Gito, anak Getas Pejaten, kawasan pinggiran kota Kudus, setiap hari, kecuali Minggu dan hari libur, berjalan kaki pergi pulang hampir empat belas kilo, ke sekolahnya, Sekolah Dasar di Jalan Daendels. Karena banyak jalan menuju ke sekolahnya, Gito bisa memilih jalan mana yang paling disukainya. Kalau perlu, dia juga lewat jalan-jalan kecil yang lebih jauh, untuk menyenangkan hatinya.

Seperti anak-anak lain, Gito sehari hanya makan satu kali, setelah pulang sekolah. Juga seperti anak-anak lain, Gito tidak mempunyai sandal, apalagi sepatu. Guru-guru pun bertelanjang kaki. Kalau ada guru memakai sepatu atau sandal, pasti sepatu atau sandalnya sudah reyot. (more…)

Advertisements

Darojat dan Istrinya
July 17, 2016


Cerpen Budi Darma (Jawa Pos, 17 Juli 2016)

Darojat dan Istrinya ilustrasi Bagus

Darojat dan Istrinya ilustrasi Bagus

DAROJAT benar-benar tidak tahu mengapa akhirnya dia menikah dengan Driani. Driani juga benar-benar tidak tahu mengapa akhirnya dia menikah dengan Darojat. Memang, sebelum menikah, kadang-kadang mereka merasa sama-sama senang, kadang-kadang merasa sama-sama membenci, dan kadang-kadang saling tidak peduli sama sekali. Tidak jarang pula Darojat menganggap Driani kotor dan menjijikkan, demikian pula anggapan Driani terhadap Darojat.

Darojat ganteng dan pandai, dan karena itu, jangan heran manakala dia berhasil menjadi dokter spesialis penyakit dalam terkemuka. Pasiennya banyak, dan semua pasien merasa senang dirawat oleh Darojat, dan Darojat bertindak dengan sangat profesional, termasuk dalam menarik biaya dari pasien-pasiennya. Kalau penghasilannya dikumpulkan dan dibelikan emas, bisa dipastikan, dalam waktu singkat dia mampu dengan mudah mengumpulkan berbatang-batang emas antam. (more…)

Presiden Jebule
June 5, 2016


Cerpen Budi Darma (Kompas, 05 Juni 2016)

Presiden Jebule ilustrasi Hadi Soesanto

Presiden Jebule ilustrasi Hadi Soesanto

Untuk Redi Panuju

Ketika Jebule lahir, alam tidak menunjukkan gejala-gejala aneh: tidak ada angin ribut, tidak ada gempa, tidak ada tanah longsor, semua tidak ada, semua biasa-biasa saja. Meskipun demikian, ketika dia lahir, ada sebuah keajaiban: leher Jebule miring. Dan dukun bayi buta huruf tahu apa sebabnya: pinggul ibu Jebule terlalu sempit, tapi, berkat kecerdasan pemberian Tuhan kepada dukun bayi buta huruf ini, dukun buta huruf bersumpah, bahwa dia akan sanggup meluruskan leher Jebule. Dan karena semua penduduk melarat, upah bagi dukun bayi buta huruf cukup sederhana bagi orang-orang lain pada umumnya, tetapi sangat berat bagi penduduk desa terpencil itu: lima potong gula jawa. Manfaat gula jawa: menahan kelaparan, dan memang semua penduduk desa terpencil itu mulai lahir sampai nyawanya melayang perutnya selamanya tidak pernah kenyang. (more…)

Angela
April 20, 2014


Cerpen Budi Darma (Kompas, 20 April 2014)
Angela ilustrasi

SEPULUH tahun yang lalu saya lulus S3 Indiana University, Bloomington, Indiana, Amerika, lalu lima tahun kemudian saya menerbitkan buku New Paradigm of Psycho-Revenge, dan selama dua tahun berikutnya saya menerbitkan buku lain yang tidak begitu penting.

Berkat buku-buku itu sekarang saya kembali ke Indiana University, dikontrak sebagai dosen mata kuliah Psikologi Sastra, mulai Januari ini, ketika salju sedang kencang-kencangnya menghantam seluruh Barat Tengah Amerika, termasuk Bloomington, Indiana. Kamar kerja saya terletak di Lantai 12, dan dari situ saya dapat melihat bongkah-bongkah salju meluncur ke sebuah pemakaman tua berumur lebih dari seratus tahun.  (more…)

Percakapan
June 23, 2013


Cerpen Budi Darma (Kompas, 23 Juni 2013)

Percakapan ilustrasi Komang Marna

BARANG siapa pernah keluyuran di kota S pasti tahu, di sana ada sebuah plaza khusus untuk makan-makan, minum-minum, nonton bioskop, main di karaoke, dan hiburan-hiburan lain.

Di plaza itu ada sebuah kedai kopi terdiri atas dua lantai, lantai bawah agak luas, lantai atas agak mungil, dan beberapa kursi disediakan di pelataran bawah. Pada waktu-waktu tertentu kedai kopi ini kosong, atau hanya beberapa orang saja yang datang, dan pada waktu-waktu tertentu pula kedai kopi ini penuh. Bukan hanya penuh di lantai bawah, tapi juga lantai atas, dan kadang-kadang, seperti kedai-kedai makan lain, sekian banyak kursi di pelataran juga penuh.  (more…)

Tangan-tangan Buntung
July 31, 2012


Cerpen Budi Darma (Kompas, 29 Juli 2012)

TIDAK mungkin sebuah negara dipimpin oleh orang gila, tidak mungkin pula sebuah negara sama-sekali tidak mempunyai pemimpin.

Selama beberapa hari terakhir, sementara itu, semua gerakan baik di dalam negeri maupun di luar negeri mendesak, agar Nirdawat segera disyahkan sebagai presiden baru. Karena Nirdawat tidak bersedia, maka akhirnya, pada suatu hari yang cerah, ketika suhu udara sejuk dan langit kebetulan sedang biru tanpa ditutupi oleh awan, ribuan rakyat mengelilingi rumah Nirdawat, dan berteriak-teriak dengan nada memohon, agar untuk kepentingan bangsa dan negara, Nirdawat bersedia menjadi presiden. (more…)