Archive for the ‘Benny Arnas’ Category

Tombak Penenun
October 2, 2016


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 02 Oktober 2016)

tombak-penenun-ilustrasi-bagus

Tombak Penenun ilustrasi Bagus

KAMI berkenalan pada 2008 dan laki-laki penenun itu datang bersama seorang pegiat teater yang juga laki-laki. Pertemuan pertama kami langsung diisi dengan materi perbincangan yang absurd: manusia adalah pohon-pohon dan pohon-pohon yang berpenyakit takkan ditebang sebab ia akan mati oleh dirinya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, pegiat teater itu saya masukkan namanya ke dalam daftar seniman yang baik budinya dan… sungguh saya lupa alasan mengapa tak memasukkan si penenun di waktu yang sama, sebagaimana saya sudah lupa cerita tentang pohon penyakitan itu. Keparatnya, beberapa hari sebelum cerita ini disiarkan, penenun itu juga mengikuti jejak temannya masuk ke daftar yang sama! (more…)

Bawang Merah dan Ibunya
June 14, 2015


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 14 Juni 2015)

Bawang Merah dan Ibunya ilustrasi Jawa Pos

SEJAK berusia tiga tahun, karena pipinya selalu bersemu merah dan matanya kerap berair ketika tertawa saking senangnya, ia dipanggil Bawang Merah. Tentu saja bukan ayahnya yang memulai, melainkan teman-temannya. Lambat-laun, mungkin karena mendapati anak gadisnya tak keberatan dengan pangggilan itu, sang ayah pun memanggilnya begitu. Sebenarnya ketika Bawang Merah baru saja masuk sekolah dasar, ayahnya sudah bertanya.

“Kau mendengar cerita Bawang Merah dan Bawang Putih?” (more…)

Taman Pohon Ibu
March 23, 2014


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 23 Maret 2014)

Taman Pohon Ibu ilustrasi Bagus

PEREMPUAN itu telah membesarkan seorang putri sedari ia mengandungnya. Ia senantiasa memberikan ragam nasihat seolah janinnya sudah gadis benar, seolah anak gadisnya ada di hadapan. Ya, bila kalian pernah membaca atau mendengar kisah seseorang yang rela digandeng Izrail demi mempersilakan oroknya mencium bumi, maka ialah ibu yang purnamulia itu1. Dan bila kalian juga pernah membaca atau mendengar kisah tukang cerita yang kerap turun ke lereng Bukit Barisan, itulah anak gadisnya. Konon, tukang cerita itu akan bercerita sampai malam memekat. Ceritanya sarat wasiat kebaikan. Tentu, buah jatuh tak jauh dari akar pohonnya; perangai ibu akan lesap ke dalam jiwa anaknya. Ketika itulah, tanpa orang-orang sadari, si tukang cerita tiba-tiba raib; bagai angslup ditelan bumi, bagai memuai dilarut angin, bagai melesat dihisap langit2.

(more…)

Pohon Tanjung Itu Cuma Sebatang
August 18, 2013


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 18 Agustus 2013)

Pohon Tanjung Itu Cuma Sebatang ilustrasi Bagus

KETIKA Didin mengantarkan surat itu pada awal Februari 1996, keinginannya berjumpa Misral menjelma gunung berapi yang hendak meletus. Sudah empat puluh tahun mereka tak bertemu. Bapak rindu sekali padamu, Nak. Kau pun begitu, kan? Datanglah ke sini. Ajak Rosnah dan anak-anakmu. Sindulami pasti sudah punya adik, kan? Berlebaranlah di sini, atau bahkan sahur dan berbukalah di rumah ini.  (more…)

Muslihat Hujan Panas
August 11, 2013


Cerpen Benny Arnas (Kompas, 11 Agustus 2013)

Muslihat Hujan Panas ilustrasi Kompas

ENTAH bagaimana Maisarah harus marah pada hujan deras yang turun siang itu. Lebih sepuluh tahun menghindari Samin, baru kali ini ia dibuat tak kuasa menentang gejolak alam. Rasanya ingin sekali ia menampar mulut bekas suaminya yang terus menceracau tentang gaji veterannya itu. Kehadiran Samin, di bawah pohon merbau tempat ia berteduh, hanya membuat kegeramannya pada hujan panas dan cerita-cerita yang menyertainya makin menggunung. (more…)

Air Akar
March 17, 2013


Cerpen Benny Arnas (Jawa Pos, 17 Maret 2013)

 

 

LANGIT menggelegar, terus menggelegar, seolah seorang raksasa tengah muntab karena sarapan tak kunjung tiba. Rupanya, raksasa itu sudah lapar benar, hingga tak cukup baginya hanya meraung. Ususnya sudah melilit, perutnya sakit tak kepalang. Ia akhirnya menangis, menangis sejadi-jadinya. Jarum-jarum bening bagai berebutan menciumi pucuk-pucuk karet, seolah tahu benar betapa pohon-pohon tua itu meranggas karena kemarau yang memamah beberapa purnama. Daun-daun kering yang menyelimuti hamparan tanah di bawah payungan kanopi karet, kini lindap, basah, lembab, lalu mempersilakan cacing, kalajengking, dan pacat menggeliat, mencari makan ke sana-ke mari. Tak lama, raksasa itu lelah juga. Wajah langit kembali merona biru laut. Di salah satu lembah, dekat Sungai Lubukumbuk, bianglala melengkungkan cahaya tujuh warna. Memang, sebagaimana di kampung lain, penduduk Kampung Nulang yang sebagian besar menyadap karet itu juga percaya bahwa beberapa bidadari kerap singgah di kampung mereka, di lembah yang sejuk oleh semak bambu, perdu, dan pohon-pohon besar tak bernama. Namun, mereka tak pernah tahu bahwa Tuhan telah menurunkan seorang bidadari di tengah-tengah mereka. (more…)