Archive for the ‘Ben Sohib’ Category

Kafe Rossana
August 6, 2016


Cerpen Ben Sohib (Koran Tempo, 06-07 Agustus 2016)

Kafe Rossana ilustrasi Munzir Fadly

Kafe Rossana ilustrasi Munzir Fadly

BAGAIMANA sejumlah kenangan bangkit—dan sebuah riwayat getir menuntut untuk diungkap—setelah begitu lama terkubur waktu? Itu semua terjadi ketika secara tak sengaja pada Rabu malam aku bertemu lagi dengan William Dowell di sebuah bar di kawasan Kemang setelah tujuh belas tahun berpisah. Aku sedang duduk sendirian menikmati gelas birku yang pertama ketika selayang pandang aku melihat tiga orang lelaki kulit putih masuk dan duduk berjarak satu meja dari mejaku. Aku masih tak menghiraukan mereka meskipun mereka berbicara gaduh sekali sampai suara serta aksen bahasa Inggris salah seorang dari ketiga lelaki itu menarik perhatianku. Aku seperti pernah mendengarnya tapi aku tak ingat di mana.

Aku hampir saja menjerit saat ingatanku berhasil mengenali siapa dia setelah memerhatikannya lebih saksama selama beberapa waktu. Rambutnya sekarang memang sudah putih merata, badan dan wajahnya melebar, tapi suaranya yang agak bindeng serta aksennya yang khas membuat aku yakin bahwa aku tak salah terka. Aku menghampirinya, meminta maaf, dan bertanya apakah ia mengenalku. Ia menatap wajahku beberapa lama sebelum akhirnya meneriakkan namaku dan nama sebuah kafe. Kami tertawa dan berpelukan erat dan saling mengatakan bahwa pertemuan tak sengaja itu merupakan sesuatu yang sulit dipercaya. (more…)

Para Penjual Rumah Ustazah Nung
June 16, 2013


Cerpen Ben Sohib (Koran Tempo, 16 Juni 2013)

Para Penjual Rumah Ustazah Nung ilustrasi Yuyun Nurrachman

KAU harus melihat sendiri bagaimana si bungsu itu memainkan drama di hadapan ibunya. Ia tahu ibunya selalu merasa iba kepadanya dan lekas terharu pada apa pun yang dikeluhkannya. Lelaki itu memang bebal dalam banyak hal, tapi tidak untuk urusan yang satu ini. Ketiga kakaknya, dua perempuan dan satu laki-laki, dibuat tak berkutik dan hanya bisa pasrah saat sang ibu akhirnya menuruti keinginannya: menjual rumah pusaka.

“Dulah tsudah tak tahan hidup tsendiri. Dulah ingin menikah lagi tsecepatnya,” itu yang ia katakana sambil tangannya mengusap sepasang pipi tembam yang basah oleh air mata.  (more…)

Burung Nasar dan Kutukan Korban Kesembilan
March 10, 2013


Cerpen Ben Sohib (Koran Tempo, 10 Maret 2013)

 

 

SAMPAI pada hari ketika istrinya dengan gembira bercerita bahwa Ubaid, anak laki-laki mereka, berpacaran dan berniat menikah dengan Fahira binti Mail Basuri, Hisam Tasir sedang mengenyam kehidupan yang menyenangkan. Lelaki berusia 57 tahun itu tinggal serumah bersama Mina, sang istri, dan Ubaid, anak lelaki satu-satunya. Ketiga anak perempuannya sudah menikah dan ikut suami masing-masing. Dari ketiga anak perempuan itu, Hisam dikaruniai tujuh cucu. Hampir setiap Minggu seluruh anak, menantu, dan cucu berkumpul di rumahnya. Pada hari-hari selebihnya, Hisam menghabiskan waktu dengan mengurus tanaman di halaman depan rumah, sesekali menagih uang kepada para penyewa enam rumah petak yang terletak di samping rumahnya, salat Magrib berjamaah di Masjid Nurul Huda bersama beberapa warga kampung Kebon Nanas lainnya, dan sebulan sekali, selepas salat Jumat, menjadi tuan rumah bagi empat atau lima sahabat seusianya dalam makan siang yang gaduh. (more…)

Haji Syiah
April 16, 2012


Cerpen Ben Sohib (Koran Tempo, 8 April 2012)

KAMPUNG Melayu Pulo tentulah bukan satu-satunya kampung di Jakarta yang dipenuhi haji dan pemabuk sekaligus. Tapi sangat mungkin hanya di sinilah dua pemuda mabuk dan seorang haji bisa duduk di balai-balai yang sama dalam sebuah majelis taklim. Sesungguhnya kata ini tak tepat menggambarkan kegiatan yang sebenarnya. Sebab, meski sesekali Sang Haji menyampaikan khotbah dan membahas hikmah, majelis itu lebih sering menjadi ajang bincang santai tentang banyak hal, tempat orang bertukar kata dan canda hingga larut malam. Tapi, sampai akhir kisah ini nanti, kegiatan itu akan tetap disebut demikian semata-mata demi memudahkan penceritaan. (more…)