Archive for the ‘Badrul Munir Chair’ Category

Warung Nyi Taslima
February 9, 2014


Cerpen Badrul Munir Chair (Suara Merdeka, 9 Februari 2014)

Warung Nyi Taslima ilustrasi Hery Purnomo

TAK ada kopi yang lebih nikmat daripada kopi buatan Nyi Taslima. Kopikental hitam agak pahit dengan larutan daun pandan yang aromanya mengundang selera, kopi yang dipetik dari kebunnya sendiri lalu disangrai pada kuali lempung, dengan tambahan rempah rahasia, resep warisan nenek moyang. Gula merah sari siwalan yang dipilih Nyi Taslima menjadikan kopi buatannya semakin kental dengan rasa manis yang hanya sesekali datang, sebab gula merah itu tak sepenuhnya larut dalam seduhan.

Ah, ketika mencium aromanya, seakan-akan seduhan kopi sudah menyentuh kerongkongan.  (more…)

Advertisements

Perahu Morantab
August 5, 2012


Cerpen Badrul Munir Chair (Suara Merdeka, 29 Juli 2012)

MATAHARI sore membiaskan warna jingga pada air laut ketika Morantab berjalan menyusuri tepian pantai dengan kaki telanjang. Sesekali ombak kecil datang ke tepian membasahi kakinya, hingga tiba-tiba Morantab merasakan kaki kirinya menginjak sesuatu empuk yang tak asing: kotoran manusia. Tak jauh dari pandangannya, seorang laki-laki duduk berjongkok menghadap laut, menyingkap sarungnya hingga pundak, kedua matanya terpejam, dan dahinya mengerut seperti menahan sesuatu. “Huh… patek!” Morantab mendengus, jengkel. (more…)

Purnama Tenggelam di Rajasthan
May 15, 2011


Cerpen Badrul Munir Chair (Suara Merdeka, 15 Mei 2011)

TENTU saja kau tak ingin menjadi Kurawa seperti dalam kisah Mahabharata karya Mpu Vyasa yang pernah kaubaca ketika masih remaja. Kau ingin menjadi Gatotkaca, ksatria Pandawa yang selalu kau kagumi. Namun kini kau tak lagi percaya pada cita-cita. Sayap-sayapmu patah, hatimu remuk. Kau mulai mengutuk, meragukan cerita-cerita dalam Mahabharata, kau menyesal karena pernah bermimpi untuk menjelajahi India, hanya karena seorang perempuan? Ah! (more…)