Archive for the ‘Ayi Jufridar’ Category

Bukit Duka
February 21, 2016


Cerpen Ayi Jufridar (Media Indonesia, 21 Februari 2016)

Bukit Duka ilustrasi Pata Areadi.jpg

Bukit Duka ilustrasi Pata Areadi

WARGA menyebutnya begitu karena dari kejauhan ia menyerupai wajah orang berduka. Dari jalan kampung, dua butir batu raksasa terlihat seperti biji mata. Di bawahnya, terdapat bagian gundul melengkung ke atas, serupa mulut manusia. Entah siapa yang menamainya demikian. Tapi tanyakanlah kepada orang tertua kampung, pasti ia mengaku sejak kecil mengenal daerah itu sebagai Bukit Duka.

Kawasan itu jarang dijamah manusia karena dianggap angker. Begitu kabar yang beredar. Saat operasi militer, Bukti Duka kian menakutkan karena dibangun posko di kaki bukit. Di sana sering terjadi baku tembak antara tentara dan gerilyawan. Setelah tembak-menembak berlalu, tentara menggelar razia. Setiap orang yang melintas diperiksa. Semua bawaan digeledah. Bila ada yang mencurigakan, orang itu masuk ke dalam pos untuk diperiksa lebih lanjut. Sudah banyak yang dibawa, diinterogasi, dan tak pernah kembali. Jumlahnya tak diketahui pasti. (more…)

Advertisements

Perempuan Beraroma Garam
April 14, 2013


Cerpen Ayi Jufridar (Media Indonesia, 14 April 2013)

Perempuan Beraroma Garam ilustrasi Pata Arendi

PEREMPUAN itu berdiri di sana, di depan pintu yang senantiasa terbuka setelah subuh agar rezeki menyerbu ke dalam bersama udara segar, meski justru nyamuk yang paling banyak masuk. Tubuhnya tinggi menjulang, dengan sebuah keranjang rotan berisi garam bertengger diam di atas kepalanya. Dia tidak pernah memegang keranjang tersebut bahkan saat berjalan dari kampung ke kampung. Tubuhnya bergerak berirama ketika kaki terayun, tapi keranjang rotan itu tetap diam, seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari kepalanya. (more…)

Uban Hitam
November 4, 2011


Cerpen Ayi Jufridar (Jawa Pos, 30 Oktober 2011)

LIMA belas tahun sudah Merlyn Getty tidur bersama Gunawan di ranjang rumah dan beberapa ranjang hotel yang pernah mereka singgahi. Sudah tidak terhitung percintaan yang pernah mereka nikmati tidak hanya di ranjang, tetapi di ruang mana pun yang menurut mereka aman dan nyaman untuk melakukannya. Sebegitu dekatnya Merlyn dengan Gunawan sehingga ia hapal terhadap setiap jengkal tubuh lelaki itu sehapal pada tubuhnya sendiri. Ia mengetahui setiap perubahan apa pun yang terjadi di tubuh Gunawan, mulai dari yang kecil lebih-lebih perubahan besar. Kantung di bawah mata yang kian nyata kendati Gunawan pernah rajin meredamnya dengan potongan mentimun atas permintaan Merlyn, perut yang kian buncit, sampai beberapa helai bulu hidung Gunawan yang sudah memutih menjadi perhatian Merlyn ketika lelaki itu tertidur pulas setelah lelah bercinta. (more…)

Air Matamu, Air Mataku, Air Mata Kita
May 30, 2011


Cerpen Ayi Jufridar (Kompas, 29 Mei 2011)

KETIKA kamu bercerita tentang apa yang dilakukan lelaki tua itu terhadapmu, kita menangis bersama dalam sebuah kamar bermandikan cahaya. Hujan di luar telah mengembunkan kaca jendela sehingga membuatku ingin menggoreskan namaku dan namamu di permukaannya. Cahaya lampu kendaraan bergerak buram di bawah sana. Dari gerak cahaya yang lamban dan kadang berhenti, aku tahu kemacetan sedang terjadi. Hujan selalu menimbulkan kemacetan, tetapi air mata kita telah melegakan rongga dada. Dadaku dan dadamu. Dada kita tak jauh beda. (more…)