Archive for the ‘Arswendo Atmowiloto’ Category

B-2
January 21, 2017


Cerpen Arswendo Atmowiloto (Koran Tempo, 21-22 Januari 2017)

b-2-ilustrasi-munzir-fadly

B-2 ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Bangunan, atau sisa sebuah  bangunan, itu terletak di tempat yang strategis untuk ditempati. Bagian depannya bisa masuk ke dalam jalan raya, bagian samping kanan masuk dalam bagian dari kompleks perumahan. Bangunan, atau sisa bangunan, barang kali dulunya sebuah rumah. Punya nomor lengkap, sebagai B-2. Namun agak susah dijelaskan apakah tadinya bagian dari suatu kompleks perumahan. Karena di sebelahnya, tak ada nomor lain. Juga tak ada blok A atau C, atau yang lainnya.

Kehadirannya seakan sendiri, dan memiliki sebutan B-2. Alamat persisnya juga susah, karena dianggap tak mengikuti nama jalan di depannya. Menurut cerita di situ pernah tumbuh pohon rambutan yang sangat lezat dan menggiurkan. Kemudian muncul cerita bahwa pohon rambutan itu berhantu. Banyak jenis hantu yang menempati. Dan itu dibenarkan oleh mereka yang tinggal di dekatnya, mereka yang menghuni kompleks. (more…)

Advertisements

Kucing yang Berubah Jadi Manusia
November 16, 2014


Cerpen Arswendo Atmowiloto (Media Indonesia, 16 November 2014)

Kucing yang Berubah Jadi Manusia ilustrasi MI

KUCING itu sepertinya dikirim oleh induknya, seekor betina yang buta. Atau minimal pandangannya terbatas karena jalannya tidak lurus dan beberapa kali menabrak benda-benda yang ada di depannya. Bahkan kehadirannya agak aneh. Betina hamil itu muncul begitu saja di lantai 9, tempat tinggal saya.

Entah lewat mana, atau bagaimana. Saat berjalan melenggok, ia menabrak kaki saya. Biasanya kucing memang suka bermanja-manja. Tapi yang ini tidak seperti itu. Sepertinya ia kaget karena eongannya terdengar meliuk. Pada kesempatan itu, saya memberikan potongan daging ayam goreng. (more…)

Penjual Koran Satu Lengan
May 11, 2014


Cerpen Arswendo Atmowiloto (Kompas, 11 Mei 2014)

Ilustrasi cerpen kompas Minggu  11-05-2014  karya : Suprobo Prasada

LELAKI penjual koran dengan satu lengan sudah menceritakan semua. Sehingga tak ada yang perlu menanyakan siapa namanya. Atau alamatnya, karena dia bisa dilihat di perempatan jalan, saat lampu merah.

Sebenarnya bukan perempatan jalan dalam arti sebenarnya. Karena jalanan itu tidak lurus, sedikit melengkung, menikung, sehingga lampu merah atau hijau bisa membuat bingung untuk pengendara dari arah mana. Juga tak ada yang bertanya kenapa tangannya buntung. Wajahnya tidak murung. Malah mengesankan beruntung memperoleh sinar matahari dari masih sangat pagi hingga lewat tengah hari. Yang tidak membuatnya lebih hitam, dan dikenali karena bau tubuhnya yang diteruskan angin yang lelah, yang kalah oleh asap apa saja.  (more…)

Bu Geni di Bulan Desember
May 28, 2012


Cerpen Arswendo Atmowiloto (Kompas, 20 Mei 2012)

BAGI Bu Geni, semua bulan adalah Desember. Bulan lalu, sekarang ini, atau bulan depan berarti Desember. Maka kalau berhubungan dengannya, lebih baik tidak berpatokan kepada tanggal, melainkan hari. Kalau mengundang bilang saja Jumat dua Jumat lagi. Kalau mengatakan tanggal 17, bisa repot. Karena tanggal 17 belum tentu jatuh hari Jumat. Kalau memesan tanggal 17, bisa-bisa Bu Geni tidak datang sesuai hari yang dijanjikan. (more…)