Archive for the ‘Arman AZ’ Category

Tapis Mastoh
October 23, 2016


Cerpen Arman AZ (Media Indonesia, 23 Oktober 2016)

tapis-mastoh-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Tapis Mastoh ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

DI LANTAI papan serambi rumah panggung, duduk beralas bantal tipis kumal, Mastoh khusyuk menyulam. Sesekali dibenahinya letak kacamata yang melorot ke hidung. Benang emas mengekori jarum yang berulang kali dicucuk dari bawah kain kemudian ditarik ke atas hingga membentuk pola tertentu.

Hangat cuaca bersekutu dengan sepoi angin membuat kantuk mudah hinggap di pelupuk mata. Satu-dua kendaraan melintas di jalanan depan rumah, menggetarkan siang yang lengang. Sal baru saja pulang. Dua bulan belakangan dia kerap singgah. Mastoh mafhum hajat apa yang diusung Sal. Janda bertubuh tambun itu mengincar tapisnya. Sal pernah keceplosan, ada kolektor mencari tapis tua yang ditenun-disulam dengan tangan. Mastoh punya tapis macam itu. Sal berniat membelinya, tapi Mastoh enggan melego. (more…)

Advertisements

Jimat Datuk
August 28, 2016


Cerpen Arman A.Z. (Jawa Pos, 28 Agustus 2016)

Jimat Datuk ilustrasi Bagus

Jimat Datuk ilustrasi Bagus

KAMI telah ikhlas jika malaikat maut datang menjemput Datuk. Ketimbang berminggu-minggu tergolek di kasur, tersiksa antara hidup dan mati, kami pasrah ditinggalkan beliau. Bukan berarti kami tak menyayangi Datuk atau ingin dicap sebagai anak cucu durhaka. Kami hanya ingin yang terbaik untuknya. Kami harap surga akan lebih indah jika Datuk ditempatkan di sana.

Dua bulan lalu Datuk opname. Saat itu kondisinya belum anjlok seperti sekarang. Di rumah sakit, beliau ngotot minta pulang. “Aku mau mati di rumah saja, bukan di sini,” keluhnya pada kami dan perawat.

Tak ada penyakit medis dalam tubuh Datuk. “Ini faktor umur. Beranjak tua, organ-organ tubuh manusia kian aus,” jelas dokter. Usia Datuk memang delapan puluhan lebih. Seizin dokter, Datuk kami bawa pulang. Kami diimbau merawat dan menjaga pola makannya. (more…)

Negeri Papa
April 17, 2016


Cerpen Arman A.Z. (Media Indonesia, 17 April 2016)

Negeri Papa ilustrasi Pata Areadi

Negeri Papa ilustrasi Pata Areadi

NEGARA itu telah memisahkan aku dan Papa. Bahkan, saat dia meninggal, aku tak bisa menatap wajahnya untuk terakhir kali. Kabar duka kuterima lewat e-mail yang dikirim Om Sugeng, sepupu Papa, sehari setelah dimakamkan. Mama terenyak. Dia lama termangu meski tak menangis seperti yang kucemaskan. (more…)

Petimun Sikinlili
April 3, 2016


Cerpen Arman A.Z. (Jawa Pos, 03 April 2016)

Petimun Sikinlili ilustrasi Bagus Hariadi

Petimun Sikinlili ilustrasi Bagus Hariadi

IA tiba dari negeri jauh ketika Bengkulu digoyang lindu. Awal yang buruk baginya. Setelah sekian pekan terapung di lautan, ia seakan tak diberi waktu untuk berleha-leha. Sedikit demi sedikit, perlahan namun pasti, ia bangkitkan lagi kota yang oleh penghuninya sempat disebut tanah mati karena nyaris seluruh bangunan luluh-lantak. Dan sebagai Gubernur Jenderal yang baru, ia buktikan bahwa kerjanya lebih keras ketimbang suaranya.

Kuketahui ihwal itu dari Tuan Presgrave, lelaki rambut jagung yang selalu berpakaian rapi dan jika bicara hanya seperlunya. Selaku Residen Manna, Tuan Presgrave meminta kami, enam pegawai pribumi, untuk ikut dalam rombongan. Andai bukan Tuan Presgrave yang bicara langsung di depan mataku, sudah kutampik perintahnya. Usia telah membuat tenagaku susut. Bukan ringan menyusur rimba, menanjak bukit, menuruni ngarai, dan menyeberang sungai. Terlebih lagi, harus kutinggalkan anak bini berhari-hari. Jika masih bujang tanpa tanggungan, usah pikir sepanjang galah, sudah kuladeni itu perintah. (more…)

Dayang Rindu
August 7, 2012


Cerpen Arman AZ (Koran Tempo, 5 Agustus 2012)

KERIE CARANG

Telah kutempuh hujan dan badai. Telah kutentang angin dan gelombang. Hingga peluh yang luruh sepanjang usia, mengantarku jadi lelaki disegani dihormati di Tanjung Iran. Pun telah kusiapkan bekal hidup untuk tujuh risalah keturunan agar kehidupan mereka jauh dari nestapa.      (more…)

Hulu Silsilah, Hilir Sejarah
July 11, 2012


Cerpen Arman AZ (Suara Merdeka, 1 Juli 2012)

TUMPUKAN kertas itu, yakinlah aku, lama tak tersentuh. Tebalnya separuh jengkal jemari orang dewasa, dibebat tali plastik, berdebu, dan tepinya telah kusam kecokelatan. Hati-hati kusorong ia keluar dari lemari. Kupangku sambil duduk bersila di lantai kamar. Debu gentayangan menagih bersin beberapa kali. Tirai jendela meliuk ditiup angin petang. Kubayangkan roh Paman dalam gerak perlahan terbang turun naik berputar-putar, mengintai kelakuanku. (more…)

Botol Kubur
April 13, 2011


Cerpen Arman AZ (Kompas, 10 April 2011)

JANGAN petuahi kami perihal amal dan dosa. Usah pula berbuih ludah mendongengkan elok surga dan bengis neraka. Kelaparan lebih mengerikan dari kematian. Jika mati sudah ketetapan, lapar adalah bagian dari kekalahan. Kami pasrah dijemput maut kapan saja, tapi kami enggan mati dengan perut kosong. Maka biarkanlah botol-botol yang mereka tikam ke tanah itu menjadi jalan rezeki kami. (more…)