Archive for the ‘Aris Kurniawan’ Category

Ziarah Terakhir
November 6, 2016


Cerpen Aris Kurniawan (Media Indonesia, 06 November 2016)

ziarah-terakhir-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Ziarah Terakhir ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

SUDAH saatnya Bardi membuka kisah rahasia antara ia dengan mendiang istrinya kepada mereka. Bardi tahu, ini tidak penting bagi mereka, tapi ia harus menceritakannya.  Sore itu seusai membersihkan kuburan mendiang istrinya, Bardi berencana mampir ke rumah anak dan menantu tirinya. Bardi berdiri dekat persilangan hendak menyeberang, tiba-tiba sepeda motor yang dikendarai tiga remaja tanggung melaju kencang ke arahnya. (more…)

Advertisements

Putri Raja dan Babi Hutan
August 7, 2016


Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 07 Agustus 2016)

Putri Raja dan Babi Hutan ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Putri Raja dan Babi Hutan ilustrasi Putut Wahyu Widodo

Pada minggu pertama bekerja sebagai asisten rumah tangga di negeri jiran, Ramini menemukan lelaki yang pernah datang dalam mimpinya. Ia adalah sopir tetangga majikannya. Berkulit hitam, bertubuh pendek kekar, dan bersorot mata tajam. Namanya Mustafa, lelaki asal Bangaladesh yang memiliki senyum manis. Beberapa detik setelah berkenalan Ramini langsung jatuh cinta dan meyakini bahwa laki-laki ini adalah sosok yang pernah menyelamatkannya pada kehidupan sebelumnya.

Maka tanpa merasa perlu berlama-lama mempertimbangkan, Ramini mengirim pesan kepada Bardi, suaminya, di Purworejo supaya menceraikannya. Jangan berharap dan menunggu kepulangannya karena ia akan menikah dengan lelaki Bangladesh itu. Ramini meminta maaf dan berjanji akan mengirim uang untuk mengurus perceraian mereka secepatnya. Ramini tidak peduli bahwa pesan itu bagai gempa bagi Bardi memerosokkan laki-laki itu ke palung bumi tanpa ampun. (more…)

Pelangon
July 31, 2016


Cerpen Aris Kurniawan (Kompas, 31 Juli 2016)

Pelangon ilustrasi Michael Binuko a.k.a  Koxis Verserken

Pelangon ilustrasi Michael Binuko a.k.a  Koxis Verserken

Sepuluh tahun kemudian, seperti janjiku, aku mengunjungi Taman Wisata Pelangon untuk membuktikan kebenaran kata-kata nenek itu bahwa salah satu dari monyet-monyet yang menghuni taman wisata ini adalah ibuku. Aku keluar dari rumah secara diam-diam setelah menjerang air, menanak nasi, dan menyiapkan lauk-pauk untuk sarapan dan makan siang serta segala keperluan ayah. Aku berjalan berjingkat  keluar melalui pintu samping. Ayah masih berbaring di kamarnya ketika aku mengintipnya lewat jendela sebelum berjalan ke arah jalan beraspal.

Ayah akan marah kalau tahu aku pergi ke Pelangon. Bukan karena aku percaya kata-kata nenek itu, melainkan karena dia membenci ibuku yang telah mengkhianatinya. “Ibumu telah mati, Punang. Lupakan dia,” kata ayah setiap aku bertanya tentang ibuku. Lalu duduk menekur seperti memikirkan persoalan yang tak dapat dipecahkan. Wajahnya penuh gurat kasar. Matanya cekung dengan tulang pipi bertonjolan. Di atas kelopak mata itu selapis bulu-bulu halus serupa ditempelkan sekenanya. (more…)

Mata Monyet
October 19, 2014


Cerpen Aris Kurniawan (Media Indonesia, 19 Oktober 2014)

Mata Monyet ilustrasi Pata Areadi

JANGAN-JANGAN benar monyet itu jelmaan Maryam! Pikiran ini begitu menggelisahkan Liman. Ia merasa heran sendiri bagaimana gagasan aneh itu bersarang di kepalanya. Padahal, selama ini ia tak percaya takhayul, hal-hal gaib, dan cerita mistis yang bertebaran di kota kecilnya. Liman selalu berpegang pada logika. Itulah yang selalu ia tanamkan pada Punang. Ketika anak semata wayangnya itu bilang bahwa monyet-monyet di taman wisata Pelangon ialah jelmaan manusia yang suka berkhianat, Liman dengan berbagai cara menjelaskan itu dongeng belaka. Tak boleh dipercaya. (more…)

Rumah yang Terbelah
May 26, 2013


Cerpen Aris Kurniawan (Media Indonesia, 26 Mei 2013)

Rumah yang Terbelah ilustrasi Gata Areadi

LELAKI tua itu masuk ke dalam rumahnya dengan langkah tergesa.

Dibantingnya daun pintu. Dari balik kaca jendela ia kemudian memandang penuh benci kepada lelaki muda yang duduk sambil merokok dan menikmati kopi di balkon seberang rumahnya. Cuih. Ia yakin perempuan tua itu yang menyuruh lelaki muda duduk di sana, supaya terlihat olehnya dan merasakan hidupnya semakin hancur. (more…)

Batu Roh Orang Mati
November 25, 2012


Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 25 November 2012)

Batu Roh Orang Mati ilustrasi Hery Purnomo

KAMI tengah menggelar upacara membangkitkan roh orang mati. Pada malam Jumat Kliwon itu kami keluar dari rumah kami membawa kembang dan wewangian, berjalan dengan langkah lesu lantaran perut kosong, menyusuri jalan desa yang kering dan pecah-pecah. Cahaya bulan kebiruan dan dengung serangga memandu langkah kaki kami yang tak bersandal. Kami memang begitu miskinnya sampai sandal pun kami tak punya. (more…)