Archive for the ‘Ardy Kresna Crenata’ Category

Kisah Kasane
October 1, 2016


Cerpen Ardy Kresna Crenata (Koran Tempo, 01-02 Oktober 2016)

kisah-kasane-ilustrasi-munzir-fadly

Kisah Kasane ilustrasi Munzir Fadly

MASIH dengan tangan berlumuran darah, Kasane meraih ponselnya yang kembali berdering. Di layar ponsel, nama seseorang yang dicintainya muncul: Murayama Saki. Kasane tahu perempuan itu kini sedang menunggunya di Stasiun Akihabara; mereka telah berjanji untuk bertemu di sana tepat pukul tujuh, dan dari sana mereka akan berjalan sebentar ke Don Quixote—di sana mereka akan naik ke lantai 8 di mana teater AKB48 berada. Ia merasa bersalah, dan tergerak untuk menerima panggilan tersebut dan melontarkan permintaan maaf. Akan tetapi, ia tahu, saat ini ia sebaiknya tak melakukannya.

Kasane menaruh ponselnya di meja dan membiarkannya terus berdering. Untuk beberapa lama, ia terdiam menatap televisi, mencoba menerka-nerka apa yang sedang dipercakapkan dua orang perempuan yang muncul di sana, juga memikirkan apakah sesuatu yang dipercakapkan itu benar-benar penting atau tidak. Ponselnya berhenti berdering saat dua orang itu berciuman. Kasane menikmati adegan ini, meski air mukanya datar saja. (more…)

Advertisements

Kematian Takeda Erika dan Oogata Yuko
May 21, 2016


Cerpen Ardy Kresna Crenata (Koran Tempo, 21-22 Mei 2016)

Kematian Takeda Erika dan Oogata Yuko ilustrasi Koran Tempo

Kematian Takeda Erika dan Oogata Yuko ilustrasi Koran Tempo

“JADI, sudah berapa lama kau mengenal Yuuko?”

“Sekitar delapan bulan.”

“Sejak dia pindah ke kamar apartemen ini?”

“Ya.”

“Bagaimana dia saat itu? Apa kesan pertamamu saat dia berdiri di hadapanmu dan memandangimu?”

“Dingin.”

“Dingin?”

“Dia menatapku tajam, tapi tatapannya itu tak memancarkan energi. Justru seperti mengisapnya.”

“. . . .”

“Dia membuka mulutnya dan tersenyum, lantas mengucapkan sesuatu yang anehnya tak bisa lagi kuingat. Yang jelas, ini kalau ingatanku tak menipuku, ketika dia tersenyum itu matanya tetap sama. Tajam, namun mati. Ya, mati. Mata itu bukan mata yang bisa kau bilang hidup. Bukan mata yang umumnya kautemukan pada makhluk hidup. Bukan.” (more…)

Kejadian-kejadian pada Layar
April 13, 2014


Cerpen Ardy Kresna Crenata (Koran Tempo, 13 April 2014)

Kejadian-Kejadian pada Layar ilustrasi Munzir Fadly

—untuk Avianti Armand

SEBUAH layar. Sebuah biru yang dominan. Di sudut kanan agak ke bawah, sesosok lelaki.

Ada benda-benda serupa burung lamat beterbangan dari kanan tengah ke kiri atas, dari sebentuk rimbun pohon dengan daun-daun gemuk menuju semacam langit yang masih hampa. Hanya ada kepak yang gamak. Lelaki itu mendengkur. Seseorang di sampingnya, sesosok perempuan, serupa perempuan, mengatur desah napasnya untuk tak mengendap jadi mimpi buruk yang akan membangunkan lelaki itu. Tangan kanannya menjuntai, seperti hendak menyentuh tubuh lelaki itu. Tapi, tangan itu terhenti, seperti jeda yang dipaksa ada.  (more…)

Orang-orang yang Setia
June 30, 2013


Cerpen Ardy Kresna Crenata (Koran Tempo, 30 Juni 2013)

Orang-Orang yang Setia ilustrasi Imam Yunni

SEPERTI biasa, ia tak menoleh ketika aku menggeliat mengeluarkan suara manja. Aku pun bangkit. Kubiarkan selimut yang semula menempel di dada akhirnya terjatuh. Dingin memang. Tapi itu justru memberiku cukup alasan untuk bersegera merangkak mendekatinya dan menekankan payudaraku ke punggungnya. “Sudah terbangun cukup lama?” tanyaku. Ia masih saja tak menghiraukanku dan tampak bersungguh-sungguh menatap layar laptopnya yang penuh sesak oleh kata-kata.  (more…)

Seseorang dan Segala Hal yang Dia Tahu
December 30, 2012


Cerpen Ardy Kresna Crenata (Koran Tempo, 30 Desember 2012)

Seseorang dan Segala Hal yang Dia Tahu ilustrasi Yuyun Nurrachman

DIA sungguh tak mengerti apa yang terjadi. Bukan saja penanda waktu pada handphone menunjukkan tanggal yang telah dilaluinya, suasana pagi itu pun benar-benar tak asing dan masih hangat dalam ingatannya. Pagi yang mendung, dingin yang merayap masuk lewat celah jendela, bunyi teratur dari hamsternya yang berlari-lari di kitiran. Ia mencoba bangkit. Dilihatnya benda itu masih di sana, sebuah kotak lampu yang dibungkusnya dengan rapi, sebuah kotak berisi sesuatu yang diberikannya kepada perempuan itu kemarin. Ya, kemarin. Dia ingat betul kemarin siang kotak itu dimasukkannya ke dalam tas tangan merah yang dibawa pulang perempuan itu. Dia juga ingat betul perempuan itu mengambil dan membuka salah satu ujung kotak itu untuk melihat isinya ketika mereka di bandara. Dia ingat betul senyum perempuan itu, juga kata-kata yang keluar dari lidahnya usai dia menggodanya kalau-kalau perempuan itu tidak tahu apa isi kotak itu. “Baju Doraemon,” kata perempuan itu. Dia ingat betul kejadian itu. Dan kini kotak itu tepat ada di depan matanya. Utuh. Dia masih berusaha mencerna apa yang sesungguhnya sedang terjadi. (more…)