Archive for the ‘Ardian Je’ Category

Di Ujung Desember
February 16, 2014


Cerpen Ardian Je (Republika, 16 Februari 2014)

Di Ujung Desember ilustrasi Rendra Purnama

ENTAH mengapa, sejak saat itu, dua tahun yang lalu, aku mulai membenci ayah. Abah, begitu panggilannya. Meski aku sadar, perasaan itu tak boleh terbesit. Ketika orang-orang bertemu Abah, mereka akan mendekatinya sambil membungkuk badan, kemudian mencium punggung tangannya yang sesejuk embun pada pagi hari. Mungkin, kesejukan itu datang karena Abah tak lepas dari wudhu.

Tepatnya, di ujung ranting Desember, Abah mempertemukanku dengan Kiai Zamri, sahabat baiknya saat keduanya menimba ilmu di pesantren. Abah memintaku mencium punggung tangan Kiai Zamri. Suhu punggung tangannya cukup sejuk, tapi tak sesejuk suhu punggung tangan Abah, tak sesejuk embun pada pagi hari.  (more…)

Advertisements