Archive for the ‘Anton Kurnia’ Category

Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Tengah Gelap Malam
June 25, 2016


Cerpen Anton Kurnia (Koran Tempo, 25-26 Juni 2016)

Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Tengah Gelap Malam ilustrasi Munzir Fadly

Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Tengah Gelap Malam ilustrasi Munzir Fadly

KATA seorang pengarang yang kurang terkenal, hidup ini tak serupa matematika di mana segalanya serbapasti, tapi lebih seperti permainan sepak bola yang kerap memunculkan kejutan dan kenyataan tak terduga.

Pada siang terik itu, Margono bermaksud pulang dari Gambir ke rumah kontrakannya setelah batal berangkat ke Bandung untuk menyusul istrinya. Kereta api yang hendak ditumpanginya telah berangkat sembilan menit sebelum dia sampai di stasiun. Kereta berikutnya baru berangkat satu jam kemudian. Setelah kesal mengantre selama nyaris sejam, dia sampai di muka kasir hanya untuk mendapat kabar menyebalkan: tiket habis. Dengan suasana hati kusut, dia membatalkan niat pergi ke Bandung dan memutuskan untuk pulang. (more…)

Advertisements

Pertunjukan Menyapu Jalan
January 17, 2016


Cerpen Feng Jicai (Jawa Pos, 17 Januari 2016)

Pertunjukan Menyapu Jalan ilustrasi Bagus.jpg

Pertunjukan Menyapu Jalan ilustrasi Bagus

“Minggu Bersih-Bersih Nasional di mulai hari ini,” kata Sekretaris Zhao, “dan para pejabat di semua daerah akan ikut serta dalam acara menyapu jalan. Ini daftar peserta kita––seluruh pejabat teras kota dan para tokoh masyarakat. Kami baru saja menyalinnya di kantor untuk Anda tanda tangani.”

Lelaki itu tampak seperti layaknya sekretaris eselon atas: kerah bajunya tampak rapi jali, setelan jas militer Mao yang pas badan rapat terkancing; kulit wajahnya pucat; kacamatanya fungsional. Lagak lagunya yang lembut dan santun serta suaranya yang sengaja dimerdu-merdukan menyembunyikan karakternya yang keras dan gampang naik darah. (more…)

Rumah Air
April 27, 2014


Cerpen Anton Kurnia (Kompas, 27 April 2014)

 
Rumah Air ilustrasi

JIKA hujan singgah, Mamah akan gelisah. Hujan memang anugerah. Pohon-pohon yang kekeringan, daun-daun yang kehausan, dan rumput-rumput yang ranggas akan senang menerima guyuran air segar basah. Tapi hujan juga bisa jadi musibah. Air yang melimpah-ruah tapi tak lancar mengalir bakal menjadi banjir. Rumah kami yang mungil pun dipaksa menjadi rumah air.

Sejak Ibu pindah ke Jakarta untuk bekerja agar aku bisa tetap bersekolah tanpa kekurangan biaya, aku tinggal bersama Aki dan Mamah—orangtua almarhum Bapak. Rumah warisan Bapak yang terletak di batas kota—cukup jauh dari tempat tinggalku sekarang—disewakan kepada tetangga yang memerlukan rumah bagi anaknya yang baru menikah.  (more…)