Archive for the ‘Ahmad Tohari’ Category

Alkisah Sal Mencari Kang Mad
March 12, 2017


Cerpen Ahmad Tohari (Suara Merdeka, 12 Maret 2017)

Alkisah Sal Mencari Kang Mad ilustrasi Putut Wahyu Widodo - Suara Merdeka

Alkisah Sal Mencari Kang Mad ilustrasi Putut Wahyu Widodo/Suara Merdeka

Hormat Sepanjang Masa buat Biyung Sal

Juli 1948, hampir tujuh puluh tahun lalu. Malam baru menjelang di Kampung Dukuh Kidul, jauh di sebelah baratdaya kota. Suasana sepi dan hening. Gelap pekat menyemuti seluruh kampung. Orang-orang tidak berani menyalakan lampu minyak karena keadaan sedang amat genting. Hanya tampak kelip-kelip pelita kecil di rumah Sal. Ibu 25 tahun itu sedang duduk di balai-balai sambil menyusui bayinya yang baru berumur satu bulan. Itu anaknya yang keempat. Suaminya, Kang Mad, jarang berada di rumah karena dia pejuang yang selalu menjadi incaran tentara Belanda. Mata-mata Belanda agaknya bahkan ada juga di Dukuh Kidul. (more…)

Advertisements

Paman Klungsu dan Kuasa Peluitnya
February 5, 2017


Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 05 Februari 2017)

paman-klungsu-dan-kuasa-peluitnya-ilustrasi-sandi-jaya-saputra-kompas

Paman Klungsu dan Kuasa Peluitnya ilustrasi Sandi Jaya Saputra/Kompas

Di sekitar jalan simpang tiga dekat pasar, nama Paman Klungsu sudah lama mapan. Dia adalah sosok yang punya kuasa di tempat itu. Dengan andalan lengking peluitnya, Paman Klungsu bisa mengatasi kemacetan lalu lintas, terutama di pagi hari. Pada saat itu, para pedagang laki-laki dan perempuan seperti beradu cepat mencapai pasar. Mereka naik sepeda atau motor dengan dua keranjang di bagian belakang. Puluhan anak SMP dan SMA dengan motor yang knalpotnya dibobok juga berebut keluar dari jalan kampung ke jalan raya. Tanpa helm, tanpa SIM. Tetapi mereka kelihatan tak peduli dan amat percaya diri. Guru-guru SD, beberapa di antaranya sudah bermobil ikut menambah kepadatan lalu lintas di simpang tiga itu. Maka, orang bilang, untung ada Paman Klungsu yang dengan lengking peluitnya bisa memuat semua menjadi lancar. (more…)

Tawa Gadis Padang Sampah
August 21, 2016


Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 21 Agustus 2016)

Tawa Gadis Padang Sampah ilustrasi Nyoman Suyadnya

Tawa Gadis Padang Sampah ilustrasi Nyoman Suyadnya

Korep, Carmi, dan Sopir Dalim adalah tiga di antara banyak manusia yang sering datang ke padang pembuangan sampah di pinggir kota. Dalim tentu manusia dewasa, sopir truk sampah berwarna kuning dengan dua awak. Dia pegawai negeri, suka lepas-pakai kacamatanya yang berbingkai tebal. Carmi sebenarnya masih terlalu muda untuk disebut gadis. Korep anak laki-laki yang punya noda bekas luka di atas matanya. Keduanya pemulung paling belia di antara warga padang sampah.

Sopir Dalim sesungguhnya pemulung juga. Dia mengatur kedua pembantunya agar memulung barang-barang bekas paling baik ketika sampah masih di atas truk. Perintah itu diberikan terutama ketika truknya mengangkut sampah dari rumah-rumah amat megah di Jalan Anu. Ikat pinggang kulit yang dipakai Sopir Dalim juga barang pulungan. Katanya, itu barang buatan Perancis yang dibuang oleh pemiliknya hanya karena ada sedikit noda goresan. Katanya lagi, kebanyakan penghuni rumah-rumah megah itu hanya mau memakai barang-barang terbaik tanpa noda sekecil apapun. (more…)