Archive for the ‘Ahda Imran’ Category

Madubun dan Cerita Kematiannya
February 4, 2017


Cerpen Ahda Imran (Koran Tempo, 04-05 Februari 2017)

madubun-dan-cerita-kematiannya-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Madubun dan Cerita Kematiannya ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

KETIKA kau membaca cerita ini, Madubun sudah mati, barangkali sebulan yang lalu.Cerita ini dibuat berdasarkan catatan seorang bekas pengikutnya yang paling setia. Perempuan lulusan sebuah universitas di Bristol, Inggris, yang kepadanya Madubun banyak mengisahkan perjalanan hidupnya. Dengan detail kekaguman yang luar biasa, dalam tulisan tangan yang rapih, perempuan itu mencatatnya di buku tulis bersampul peta dunia. Dan dua hari setelah peristiwa di Kota Suci, kepada penulis cerita ini perempuan itu menyerahkan buku catatannya lewat seorang kurir. Dalam surat pendek yang tampak ditulis tergesa-gesa, ia meminta agar penulis cerita ini menyimpan buku tersebut. Ia tak mengatakan alasan mengapa buku itu diserahkannya kepada penulis cerita ini. Kami memang sudah lama saling mengenal meski tidak bisa disebut berteman. Menulis cerita berdasarkan catatan pribadi seseorang tentu bukanlah ide yang baik. Tapi itu baik juga dilakukan supaya kau mengetahui siapa sebenarnya Madubun dan cerita di balik kematiannya. Lebih penting lagi, seperti tulis perempuan itu dalam suratnya, agar kita tahu betapa menyusahkannya menjadi manusia. (more…)

Advertisements

Rendang Buatan Ibu
July 17, 2016


Cerpen Ahda Imran (Media Indonesia, 17 Juli 2016)

Rendang Buatan Ibu ilustrasi Pata Areadi

Rendang Buatan Ibu ilustrasi Pata Areadi

DEDAK rendang itu dijumputnya dengan tiga ujung jari, dibenamkannya ke dalam nasi. Lalu pelan dan hati-hati dua jari itu mengoyak serat daging sambil menekannya agar tidak menggelincir, menaruhnya bersama dedak rendang tadi. Daging dan dedak rendang terbenam dalam suapan nasi hangat, masuk pelan ke dalam mulutnya. Ia makan begitu nikmat seolah baru pertama merasakan rendang Padang. Ia makan tak ubahnya anak bujang di hadapan keluarga calon istrinya.

Rendang dan sambal cabai hijau. Itu selalu yang dimintanya, tanpa rebus daun singkong, kuah gulai, atau ulam irisan mentimun. Ia tak pernah tertarik pada dendeng balado, gulai usus, kikil, cincang, paru, atau gulai kepala kakap. Tampaknya ia memang datang ke kedai nasi kami hanya untuk makan dengan rendang. Lelaki itu sangat pendiam. Kukira umurnya lebih muda barang lima atau tujuh tahun dari suamiku. (more…)