Archive for the ‘Agus Noor’ Category

Anjing Bahagia yang Mati Bunuh Diri
August 7, 2016


Cerpen Agus Noor (Kompas, 07 Agustus 2016)

Anjing Bahagia yang Mati Bunuh Diri ilustrasi Hartono Wibowo

Anjing Bahagia yang Mati Bunuh Diri ilustrasi Hartono Wibowo

Koruptor atau bukan, ada baiknya kalian menyimak cerita anjing Pak Kor ini. Setiap orang punya nasibnya sendiri-sendiri, tetapi kalau ada anjing yang nasibnya lebih beruntung dari manusia, sudah sepantasnya kalau kami iri.

Sebleh, seorang pemulung, menemukan anjing yang sekarat di tempat pembuangan sampah. Tubuh anjing itu bobrok oleh borok, belepotan lumpur penuh kutu dengan kepala belepotan darah terkena bacokan. Begitu menyedihkan anjing itu, sampai maut pun tak berani mendekat. Sebleh membawa anjing itu bukan tersebab kasihan, tapi karena ia berpikir bisa menjual anjing itu ke penjual daging anjing. Sebleh mengikat kedua kaki anjing itu, kemudian berhari-hari menjemurnya di atap seng, berharap luka penuh kutu di kulit anjing itu mengering dan ia bisa menjualnya dengan harga sedikit mahal. Kalau pun tak laku, ia bisa menyembelih anjing itu untuk anak istrinya yang belum tentu setahun sekali makan daging. (more…)

Advertisements

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua
June 26, 2016


Cerita ini adalah karya kolaboratif dari Agus Noor, Jujur Prananto, Dewi Ria Utari, Putu Wijaya, Triyanto Triwikromo, dan Ni Komang Ariani (Kompas, 26 Juni 2016)

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Surat Menteri dan Mimpi Pengarang Tua ilustrasi Handining

Tohari, pengarang tua itu, gemetar memandangi surat yang baru saja diterimanya. Dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Di pengujung usia senjanya sebagai pengarang, baru kali ini ia merasa diperhatikan. Ia akan mendapatkan hadiah Rp 100 juta. Astagfirullah, itu uang yang tak pernah dibayangkan, bila mengingat selama ini ia hanya mendapat puluhan ribu dari honor tulisannya. Memang sesekali ia mendapat uang sekian juta bila diundang di acara pemerintah, tapi itu pun sudah dipotong sana-sini, dan ia hanya menandatangani kuitansi kosong. Sekarang Rp 100 juta! Tumben pemerintah memberi hadiah sebanyak itu.

Masih dalam kekagetan yang teramat sangat, Tohari mulai merancang-rancang akan dikemanakan uang sebanyak itu. Ia sedang berpikir untuk menggunakan sedikit uang tersebut untuk belanja online? Siapa tahu? Baru minggu lalu, cucunya memperlihatkan Instagram belanja online yang penuh dengan barang-barang baru menggiurkan mata yang tak pernah dilihatnya. (more…)

Kopi dan Cinta yang Tak Pernah Mati
January 11, 2015


Cerpen Agus Noor (Kompas, 11 Januari 2015)

Kopi dan Cinta yang Tak Pernah Mati ilustrasi Made Supena

KEBEBASAN selalu layak dirayakan. Maka selepas keluar penjara, yang diinginkan ialah mengunjungi kedai kopi ini. Kebahagiaan akan semakin lengkap bila dinikmati dengan secangkir kopi. Hanya di kedai kopi ini ia bisa menikmati kopi terbaik yang disajikan dengan cara paling baik. (more…)

Hari Baik untuk Penipu
June 15, 2014


Cerpen Agus Noor (Media Indonesia, 15 Juni 2014)

Hari Baik untuk Penipu ilustrasi Pata Areadi

HIDUP mengajarkan padanya, seberuntung-beruntungnya orang beruntung, masih lebih beruntung penipu yang beruntung. Namun, ia juga tahu, penipu yang baik tak hanya mengandalkan keberuntungan, tapi juga mesti pintar memanfaatkan setiap kesempatan.

Kini ia sedang berada di puncak keberuntungannya sebagai penipu. Ia tersenyum menatap wajahnya di cermin. Jangankan orang lain, dirinya sendiri sering merasa tertipu setiap melihat wajahnya sendiri. Barangkali aku memang ditakdirkan menjadi penipu yang baik, batinnya. Lalu ia teringat sebuah cerita yang pernah didongengkan ibunya semasa kanak-kanak. (more…)

Kalung
May 18, 2014


Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 18 Mei 2014)

 

20140522_233238

Arak – arakan Pengantin Kecil 

TAK ADA yang lebih menyenangkan dari keriangan anak-anak. Bahkan bagi malaikat. Menyaksikan serombongan anak-anak menirukan bebunyian gamelan mengiringi sepasang pengantin kecil bermahkotakan untaian daun nangka di siang yang terik itu, saya melayang pelan dan merasakan kegembiraan mereka. Seolah mereka arak-arakan pengantin dari surga.  (more…)

Misteri Burung Gagak dan Cerita Lainnya
March 2, 2014


Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 2 Maret 2014)

Misteri Burung Gagak dan Cerita Lainnya ilustrasi Bagus

JANGAN pernah membiarkan lelaki itu mendekatimu. Apalagi mempersilahkan masuk ke dalam rumah. Bertamu, atau datang untuk minta sedekah, hanyalah alasan, sebelum pada akhirnya ia merenggut sepasang matamu yang paling berharga.

Kau akan segera mengenalinya. Ia selalu berjalan dengan seekor gagak bertengger di tangannya. Siapa pun yang gampang tergoda, pasti terpesona sorot matanya. Ditambah gaya bicaranya yang meyakinkan setiap kali menjelaskan dari mana gagak itu muncul dalam hidupnya. 

(more…)