Archive for the ‘Afrizal Malna’ Category

Cara Mengakhiri Sebuah Makan Malam
March 16, 2014


Cerpen Afrizal Malna (Jawa Pos, 16 Maret 2014)

Cara Mengakhiri Sebuah Makan Malam ilustrasi Bagus

MUSIM dingin untuknya sama dengan ikan yang bersembunyi dalam lukisan-lukisan Gerhard Richter, seorang pelukis Jerman yang sering melintas dalam pikirannya, setiap musim dingin datang. Menciptakan banyak warna untuk menyembunyikannya kembali dalam sapuan besar warna lain. Warna-warna yang seakan-akan diciptakan untuk melawan atau memberi cahaya hangat atas warna putih kelabu dari musim dingin.

Jurg, tukang pos yang banyak mengoleksi foto-foto Paus itu, berusaha membenamkan tubuhnya dalam udara hangat dari mesin pemanas kereta. Ia menggerakkan jari tangannya yang terbungkus sarung tangan tebal dari wol. Di luar jendela kereta, salju kian mengubah peta. Menciptakan posisi yang membingungkan untuk melihat arah, untuk tahu di mana dirinya berada di antara wajah kota yang hampir terbalut warna putih salju.  (more…)

Advertisements

Incogni-type Lalu Debu
March 9, 2014


Cerpen Afrizal Malna (Media Indonesia, 9 Maret 2014)

Incogni-type Lalu Debu ilustrasi Pata Areadi

LELAKI itu 17 tahun. James namanya. Sudah berdiri di atas bibir kematian. Telapak kakinya jadi lebih pucat, menahan keseimbangan berat tubuhnya. Ia masih mengenakan pakaian tidur dengan bau malam yang tersisa. Kota di bawah apartemennya tampak seperti jurang dengan taring-taring yang terus bergerak menebarkan topeng-topeng kesepian.

Hidup seperti pagi yang selalu kehilangan hari kemarin. Mata James mulai terpejam. Ia tidak mau memandang kematiannya melayang ke bawah taring-taring itu. Bulu matanya lentik. Lelaki yang tersamar dalam topeng kecantikan. Tidak terlalu sulit untuk memejamkan mata. Tapi telinganya mulai lebih sensitif, menangkap dan mengurai setiap suara. Setiap suara, dari berbagai jenis, berubah jadi lentingan cerita yang melayang mencari susunannya. Tiba-tiba terdengar suara klakson taksi.  (more…)

Arsip Aku di Kedalaman Krisis
March 9, 2014


Cerpen Afrizal Malna (Kompas, 9 Maret 2014)

Arsip Aku di Kedalaman Krisis ilustrasi -

KALIMAT ini letaknya agak ke kiri, di antara lipatan udara bergaram, botol kecap, dan daftar menu dengan serakan pasir laut tertempel pada ”cover”-nya. Lalat memenuhi meja makan, seperti titik-titik hitam bersayap.

Beberapa kalimat agak berantakan, ketika aku mencoba menatap Ni Komang Ayu. Hewan kecil itu kadang bermain di antara rambut Ni Komang yang terurai panjang, seperti mengukur jarak antara kesunyian dan pikiran-pikirannya.  (more…)

Tulisan Kelinci Merah
November 11, 2012


Cerpen Afrizal Malna (Kompas, 11 November 2012)

BAU tanah seperti ladang kenangan, perputaran dari yang tumbuh tanpa perubahan, dan rumah-rumah air tanpa banjir. Bau daun, dahan-dahan pohon, lumut yang memberi warna pada batu dan kayu, semua seperti kalimat padat yang membuat hutan seperti konser kebisuan. (more…)

Pasir Retak
July 16, 2012


Cerpen Afrizal Malna (Jawa Pos, 20 Mei 2012)

HUJAN turun di atas api. Suara api dan suara hujan bercampur seperti suara sungai dengan alirannya yang deras. Keduanya menjadi nyanyian cinta menjelang senja. (more…)