Archive for the ‘Adi Zamzam’ Category

Sebuah Kasus Ganjil di Sebuah Restoran
September 18, 2016


Cerpen Adi Zamzam (Suara Merdeka, 18 September 2016)

sebuah-kasus-ganjil-di-sebuah-restoran-ilustrasi-fsm

Sebuah Kasus Ganjil di Sebuah Restoran ilustrasi FSM

Sosok itu terlihat gelisah sejak awal-awal duduk di kursi itu. Hingga beberapa menit ke depan, entah sudah berapa kali ia menengok jam dinding. Seperti tengah menunggu sesorang.

Seorang pelayan sempat menghampirinya—menanyakan pesanan. Tapi dia hanya tersenyum saat itu, seperti telah menemukan apa yang ia cari, meski tak memberi jawab sama sekali. Seperti orang yang pelit kata-kata. Atau bahkan mungkin bisu. Membuat pelayan itu memajukan bibir—tapi berusaha memaklumi. Duapuluh menit kemudian pelayan itu tetap membawakan secangkir teh hangat ke meja itu.

“Cuma dua ribu,” kata si pelayan. “Daripada cuma menganggur. Kalau tak mau, maksudku tak sanggup bayar, biar aku yang bayar. Tak enak sama si bos, kalau sampai beliau lihat kau cuma mampir untuk duduk.” (more…)

Bintang-bintang di Jendela
March 27, 2016


Cerpen Adi Zamzam (Suara Merdeka, 27 Maret 2016)

Bintang-bintang di Jendela ilustrasi Suara Merdeka

Bintang-bintang di Jendela ilustrasi Suara Merdeka

Tiga bilah cahaya masuk ke dalam remang-remang kamar itu. Seperti sebuah tangan yang ingin meraih, memeluk erat, dan menghiburnya dari segala kesedihan.

Ia lantas meregangkan tubuh untuk mengusir pegal-pegal. Tubuhnya menggelinjang aneh. Ini untuk sebuah penyambutan. Malam sudah datang. Ia harus bersiap menyambut sebuah kereta harapan yang akan datang menjemput. Meski kereta itu selalu datang diam-diam, tapi selalu tepat waktu. Selalu tepat ketika sunyi mendekap malam sedemikian pekatnya. Karena itulah ia sendiri yang harus siap menunggu. Tak peduli sepi tengah melumuri semesta raya. (more…)

Tubuh yang Diam
March 2, 2014


Cerpen Adi Zamzam (Media Indonesia, 2 Maret 2014)

Tubuh yang Diam ilustrasi Pata Areadi

SEJAK bangun tidur, ia sudah merasakan kekosongan itu. Semakin terasa saat ia memaksakan diri untuk bangun. Kosong yang paling kosong. Seperti lelah yang telah lama menumpuk, hingga ia kembali merebahkan tubuh, sebelum akhirnya berkeputusan untuk pergi ke dokter.

Ia tak yakin, apakah kekosongan yang seperti lelah ini bersumber dari gejala sebuah penyakit atau hanya perasaannya. Karena itulah ia juga tak yakin apakah dokter bisa menyembuhkan keluhan yang dialaminya sekarang, meski akhirnya ia berangkat ke dokter juga.  (more…)

Ketika Rabbi Diturunkan
March 2, 2014


Cerpen Adi Zamzam (Republika, 02 Maret 2014)

ketika-rabbi-diturunkan-ilustrasi-rendra-purnama

Ketika Rabbi Diturunkan ilustrasi Rendra Purnama

SAAT mengambil jaket di lemari, wajah lelakiku kentara sekali tegangnya.

“Apa yang bisa Kang Noto lakukan di sana nanti?” aku membuntuti dengan pertanyaan kecemasan.

“Tidak tahu,” jawabnya pendek. “Tapi yang pasti kami harus melindunginya,” seperti ada nada sedih.

“Meskipun sudah jelas bahwa ia bersalah?” (more…)

Sangkar di Atas Leher
July 14, 2013


Cerpen Adi Zamzam (Koran Tempo, 14 Juli 2013)

Sangkar di Atas Leher ilustrasi Yudha AF

AKAN kuceritakan kepadamu tentang keanehan yang kualami sejak empat hari kemarin, yang terus saja menyiksaku hingga detik ini. Adalah kicauan seekor burung terdengar seperti permintaan tolong dan kadang terdengar pula seperti ratapan. Kicauan itu terus bergema dalam kepalaku. Tak henti-henti. Ya, di dalam kepalaku!

Saat kicauan itu berdenging di telinga kiriku, segera saja kusumpal lubang telinga kiriku. Pun ketika kicauan itu meriuhi telinga kananku, segera saja kusumpal lubang telinga kananku. Tapi semua itu sia-sia belaka. Kicauan itu justru kemudian meloncat ke atas.  (more…)

Kabut
April 21, 2013


Cerpen Adi Zamzam (Suara Merdeka, 21 April 2013)

Kabut ilustrasi Putut Wahyu Widodo

KABUT tiba-tiba saja memperpendek jarak pandang. Wono merasa telah begitu jauh meninggalkan pantai, meninggalkan mata bening yang melepasnya dengan aroma cemas tadi pagi. Namun jaringnya masih belum mendapatkan hasil yang melegakan. Hanya setengah ember ikan kuning dan ikan selar. Ikan-ikan seperti tengah bersembunyi entah di mana. (more…)