Archive for the ‘Adam Gottar Pirre’ Category

Saroghol
April 7, 2013


Cerpen Adam Gottar Parra (Media Indonesia, 7 April 2013)

Saroghol ilustrasi Pata Arendi

MARAH-MARAH seperti orang kerasukan setan terjadi hampir saban malam, sebelum Saroghol melanjutkan pekerjaan memahat batu sebesar kerbau di lereng Bukit Kotok. Sebagaimana malam yang mendung itu, di saat para penghuni gubuk di sekitar lembah sedang lelap, ia berteriak-teriak dari ketinggian bukit. (more…)

Laron-Laron Memburu Nyala Obor
October 7, 2012


Cerpen Adam Gautar Parra (Suara Merdeka, 30 September 2012)

SENJA hampir magrib. Di kedua sisi jalan setapak dekat pekuburan desa berdiri pohon-pohon besar berusia ratusan tahun. Suasana sore tampak remang-remang seperti di dalam hutan belantara. Namun masih terlihat jelas ruas-ruas batang dan dahan pohon buwuh yang kulit batangnya mengelupas dan memutih terbungkus jamur benang, hingga mirip lukisan gadis telanjang yang berdiri anggun di permukaan kanvas; atau kepulan asap yang membubung tinggi ke udara dalam cahaya senja yang makin temaram. (more…)

Tasbih Tulang Nguk-Nguk
June 3, 2012


Cerpen Adam Gottar Pierre (Suara Merdeka, 27 Mei 2012)

TOGOG tertegun memandang kerangka binatang di depannya. Otaknya yang dungu bertanya-tanya, binatang apa gerangan yang memiliki tengkorak dengan gigi bertaring seperti binatang buas. Apakah ini kepala harimau, singa, serigala, beruang, kuda, rusa, atau anjing hutan? Ia mereka-reka dengan kepalanya yang lonjong mirip buah cempedak. (more…)

Pengusung Jenazah yang Berjalan Mundur
January 27, 2012


Cerpen Adam Gottar Pirre (Jawa Pos, 22 Januari 2012)

DITERANGI  lampu biji jarak [1] yang ditusuk seperti sate, malam itu kami duduk setengah melingkar menghadap ke timur di sangkok [2] rumah. Di depan kami, terletak sebuah nyiru berisi biji jagung dan sebuah mangkuk batu. Dengan biji palawija itulah kami hendak menghitung jumlah kosakata yang masih tersisa dalam bahasa ibu kami, bahasa Dungau, setelah gelombang demi gelombang penjajahan, perang suku, progam KB, dan siaran televisi menyusutkan jumlah populasi kami dari 5 juta jiwa menjadi 461 orang, yang mendiami sebuah kampung terpencil yang diapit barisan bukit-bukit yang memanjang dari pesisir selatan ke utara. (more…)